JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto berencana menambah sistem persenjataan (alutsista) bagi TNI Angkatan Udara demi mempertebal pertahanan nasional.
Kepala Negara memastikan penambahan kekuatan militer bakal terus dilakukan secara bertahap dalam beberapa waktu ke depan.
"Dalam waktu yang akan datang terus akan kami bangun kekuatan kami. Kami ingin mengamankan wilayah udara, wilayah laut, dan tentunya wilayah daratan kami," kata Presiden Prabowo usai menyerahkan sejumlah alutsista baru kepada TNI di Landasan Udara Halim Perdanakusuma.
Penambahan alutsista jelas membutuhkan anggaran yang tak sedikit, di sisi lain kondisi ekonomi Indonesia sekarang ini kian tak menentu di tengah gejolak global yang tak berkesudahan mesti menjadi pertimbangan tersendiri.
Terkait kondisi keuangan negara sekarang ini, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dinilai masih sangat memadai untuk mengakomodasi rencana tersebut.
"Kami perkuat terus (pertahanan) darat, lautan, udaranya. Saya kan bagian bayar saja, kami bayar," katanya.
Misi memperkuat pertahanan nasional bukanlah rencana yang baru digodok semalam. Rencana ini telah disiapkan jauh-jauh hari dengan mempertimbangkan sejumlah skenario.
Pemerintah dipastikan telah menyiapkan anggaran untuk memuluskan agenda tersebut tanpa mengganggu anggaran program prioritas lainnya seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), subsidi, hingga belanja pembangunan lainnya.
Defisit APBN juga dipastikan tetap terjaga di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), sehingga belanja pertahanan tidak akan mengganggu program pembangunan lainnya.
"Dengan ini sudah kami hitung, defisitnya di bawah 3% untuk PDB. Jadi enggak usah khawatir. Semuanya sudah kami hitung dengan baik," paparnya.
Anggaran Kementerian Pertahanan dalam APBN 2026 tercatat sekitar Rp 187,1 triliun, termasuk untuk pengadaan dan modernisasi alutsista TNI.
Meski belum memerinci besaran anggaran pertahanan 2027, pemerintah berkomitmen terus memperkuat kemampuan pertahanan nasional.