Menjelang Rapat Dewan Gubernur, Otoritas Moneter Berpotensi Meningkatkan Suku Bunga

Menjelang Rapat Dewan Gubernur, Otoritas Moneter Berpotensi Meningkatkan Suku Bunga
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Bank Indonesia diproyeksikan bakal menaikkan suku bunga acuan miliknya sebesar 25 basis poin atau bps pada hari Rabu pekan ini berdasarkan hasil jajak pendapat mayoritas tipis para ahli ekonomi.

Langkah pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral tersebut dinilai sebagai opsi yang rasional di tengah situasi pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlangsung.

Mata uang rupiah diketahui telah mengalami depresiasi sekitar 5 persen sejak dimulainya konflik geopolitik global pada akhir Februari lalu, meskipun intervensi pasar valuta asing rutin dilaksanakan.

Adanya tekanan eksternal yang terus bergulir tersebut mendorong sebagian besar pengamat pasar memproyeksikan kebijakan finansial yang jauh lebih ketat dari otoritas moneter.

Berdasarkan survei terhadap 29 ekonom pada pertengahan Mei, sebanyak 16 responden memperkirakan suku bunga acuan akan dikerek naik menuju level 5,00 persen pada tanggal 20 Mei.

Sejalan dengan skenario itu, tingkat suku bunga untuk fasilitas simpanan serta fasilitas pinjaman overnight juga diproyeksikan ikut merangkak naik masing-masing sebesar 25 basis poin menjadi 4,00 persen dan 5,75 persen.

“Saya pikir alasan utama kenaikan suku bunga adalah depresiasi rupiah dalam sebulan terakhir,” tutur seorang pakar ekonomi dari lembaga riset internasional.

Ia berpendapat bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah saat ini berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan pasar terhadap efektivitas langkah proteksi yang diambil oleh pihak otoritas dan pemerintah.

“Investor menilai langkah-langkah tersebut belum cukup,” ucapnya, menambahkan situasi pasar.

Kendati demikian, pandangan di kalangan internal pengamat masih terbelah, di mana hampir setengah dari total ekonom yang disurvei memprediksi suku bunga masih akan tertahan di level 4,75 persen.

“Bank Indonesia tampaknya semakin khawatir terhadap pelemahan rupiah, tetapi untuk saat ini kami menduga BI masih akan mengandalkan intervensi di pasar valas daripada menaikkan suku bunga,” kata analis pasar berkembang.

Beberapa pengamat keuangan menambahkan bahwa jika keputusan kenaikan suku bunga benar-benar diambil pekan ini, hal tersebut berpotensi menjadi titik awal dari siklus pengetatan moneter yang baru.

Merujuk pada agenda rapat berkala pekan ini, kondisi inflasi domestik belakangan ini sebenarnya dinilai masih berada dalam batas aman dan relatif jinak.

Oleh karena itu, tindakan mengerek suku bunga acuan dapat dipandang sebagai langkah pencegahan awal atau pre-emptive, tanpa menutup peluang terjadinya penyesuaian lanjutan di masa depan.

Melihat proyeksi jangka panjang, angka median dari para responden menunjukkan suku bunga acuan diperkirakan akan mendarat di level 5,00 persen pada penutupan tahun ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index