FINANSIALFOKUS.COM — Pasar saham domestik kembali menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG tergelincir 24,03 poin ke posisi 6.501,66, setelah pada awal sesi sempat menyentuh level tertinggi hariannya di angka 6.551.
Data RTI mencatat, indeks sempat tertekan hingga level terendah 6.474,57 sebelum akhirnya ditutup sedikit di atas level psikologis 6.500. Total nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp 14,29 triliun dengan volume 35,88 miliar saham dan frekuensi lebih dari 2,19 juta kali.
Dari total saham yang diperdagangkan, mayoritas berada di zona merah. Sebanyak 367 saham tercatat melemah, sementara 259 saham menguat dan 166 saham lainnya stagnan.
Masih Perkasa Secara Bulanan
Koreksi harian ini tak mengubah tren positif jangka pendek. Sepanjang sepekan terakhir, IHSG masih menguat 1,56%. Bahkan secara bulanan, indeks berhasil melesat 4,93%, menandakan momentum pemulihan pasar masih berlanjut.
Penguatan ini sejalan dengan optimisme pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik. Namun, aksi ambil untung menjadi pemicu utama pelemahan harian, terutama setelah indeks mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa sesi sebelumnya.
Catatan Kinerja Jangka Menengah
Meski mengesankan dalam sebulan terakhir, kinerja IHSG dalam rentang waktu yang lebih panjang masih menunjukkan tekanan. Secara tiga bulanan, indeks tercatat masih melemah 1,48%. Lebih jauh lagi, dalam enam bulan terakhir, IHSG terkoreksi cukup dalam hingga 21,95%.
Secara tahun berjalan atau year-to-date, indeks masih berada di zona negatif dengan pelemahan 12,95%. Kondisi ini menggambarkan bahwa meskipun terjadi rebound baru-baru ini, pemulihan pasar modal Indonesia masih membutuhkan waktu untuk kembali ke level sebelum tekanan global terjadi.
Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan suku bunga global dan data inflasi domestik sebagai penentu pergerakan selanjutnya. Sentimen eksternal, terutama dari perekonomian Amerika Serikat, tetap menjadi variabel utama yang memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham tanah air.