FINANSIALFOKUS.COM — Penguatan Dolar AS kali ini masih bersifat terbatas. Sejumlah analis menilai ada faktor lain yang membatasi laju rebound mata uang tersebut, salah satunya rencana kontroversial Departemen Keuangan AS untuk melakukan buyback obligasi jangka panjang.
"Upaya Departemen Keuangan AS untuk menekan yield obligasi jangka panjang secara artifisial tampaknya kembali memicu tren trading yang bertaruh pada penurunan nilai mata uang Dolar AS," kata Shane Oliver, kepala strategi investasi di AMP, perusahaan jasa keuangan asal Australia.
Ketegangan Timur Tengah Mendorong Permintaan Safe Haven
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam kolom opini di The Financial Times menyebut "hari-H serangan ekonomi" atas Iran akan segera tiba. Rincian sanksi ekonomi diperkirakan diumumkan dalam beberapa jam ke depan, namun ketegangan sudah meluas lebih dulu.
Pelaku pasar mencermati cakupan sanksi dan negara mana saja yang akan tunduk pada instruksi Washington. Perhatian utama tertuju pada raksasa ekonomi seperti China, Rusia, dan India yang memiliki hubungan dagang erat dengan Teheran.
"Reaksi Dolar kemungkinan besar akan bergantung pada cakupan dan tingkat keparahan sanksi tersebut," ujar Volkmar Baur dari Commerzbank. Menurutnya, Dolar AS justru terancam melemah jika negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Iran ikut terdampak sanksi.
Ancaman Blokade Minyak dari Teheran
Tehran merespons keras rencana tersebut. Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan akan membalas negara mana pun yang ikut menerapkan sanksi.
"Jika negara-negara di sekitar Iran bergabung dengan pihak Amerika dalam perang ekonomi mereka, tidak akan ada setetes pun minyak yang keluar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz," tegas Rezaei.
Ancaman ini relevan bagi Indonesia. Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah, termasuk pasokan yang masuk ke pasar domestik. Gangguan di jalur tersebut berpotensi menaikkan harga minyak global dan menekan anggaran energi nasional.
Sikap Wait-and-See Mendominasi Pasar
Eskalasi ketidakpastian membuat mayoritas trader memilih beralih ke posisi tunggu. Sebagian besar pelaku pasar menahan diri membuka posisi baru sebelum pengumuman resmi sanksi dan arahan kebijakan moneter dari simposium Jackson Hole pekan ini.
Dari sisi domestik, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi sentimen global tersebut. Investor disarankan mencermati perkembangan geopolitik dan pernyataan pejabat The Fed dalam beberapa hari ke depan untuk mengukur arah kebijakan suku bunga acuan AS.
Investasi mengandung risiko.