FINANSIALFOKUS.COM — Posisi tersebut melanjutkan tren negatif rupiah yang pada penutupan sebelumnya masih bertengger di level Rp17.694 per dolar AS. Pelemahan ini mengindikasikan tekanan eksternal masih mendominasi sentimen pelaku pasar di dalam negeri.
Defisit Melonjak Lebih dari Tiga Kali Lipat
Data neraca pembayaran Indonesia menunjukkan defisit transaksi berjalan pada periode April-Juni 2026 membengkak drastis. Pada kuartal I 2026, defisit hanya tercatat sebesar 3,6 miliar dolar AS atau sekitar 1% dari PDB.
Lonjakan defisit hingga 12,5 miliar dolar AS ini menjadi perhatian utama investor asing yang selama ini sensitif terhadap stabilitas fundamental ekonomi Indonesia. Angka tersebut jauh melampaui estimasi konsensus pasar yang memperkirakan defisit akan berada di kisaran 2,5% PDB.
Harga Minyak Dunia Jadi Biang Kerok Utama
Ibrahim Assuabi, analis mata uang, menjelaskan bahwa pelebaran defisit tersebut dipicu oleh melonjaknya nilai impor minyak. Kenaikan ini seiring dengan tingginya harga minyak mentah dunia yang menekan neraca perdagangan migas Indonesia.
"Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang tercatat 3,6 miliar dolar AS atau 1 persen PDB," ujar Ibrahim dilansir dari Antara.
Kendati demikian, ia menilai faktor kenaikan harga komoditas energi ini bersifat temporer. Pasar masih menunggu katalis lain untuk menentukan arah pergerakan mata uang Garuda pada sesi-sesi berikutnya.
Tekanan pada Rupiah Belum Reda
Sepanjang tahun berjalan, nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi cukup dalam terhadap dolar AS. Kondisi ini diperparah dengan sikap bank sentral AS yang masih mempertahankan suku bunga tinggi, membuat aliran modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang.
Pelaku pasar kini mengalihkan fokus ke langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan kurs. Intervensi ganda (dual intervention) baik di pasar spot maupun Surat Berharga Negara (SBN) dinilai menjadi instrumen utama yang akan digunakan untuk menahan laju pelemahan.
Investor juga akan mencermati data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini sebagai petunjuk arah kebijakan moneter global selanjutnya.
Sentimen Negatif Menular ke Aset Berisiko
Tekanan pada rupiah berimbas pada pasar obligasi domestik. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun terpantau naik, mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor untuk memegang aset berdenominasi rupiah.
Di pasar saham, aksi jual asing (net sell) diperkirakan masih akan berlanjut jika fundamental makro tidak menunjukkan perbaikan. Kondisi ini membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi pada perdagangan berikutnya.
Investasi mengandung risiko.