Grup Djarum Kuasai 10,86% Saham Bakrie Telecom via Konversi Utang

Senin, 24 Agustus 2026 | 21:47:00 WIB

FINANSIALFOKUS.COM — Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (24/8), konversi OWK tersebut menambah 6,31 miliar saham baru BTEL. Jumlah itu setara dengan peningkatan total saham tercatat dari sebelumnya 38,33 miliar menjadi 44,64 miliar lembar.

Enam Entitas Djarum Masuk, Protelindo Terbesar

Dari total konversi tersebut, Protelindo menjadi pemegang saham baru terbesar dengan mengantongi 4,84 miliar saham. Dengan harga konversi Rp 200 per saham, kepemilikan Protelindo setara 10,86% dari total saham BTEL yang beredar.

Selain Protelindo, lima perusahaan afiliasi lainnya turut mengeksekusi konversi pada tanggal yang sama. PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) mengonversi 888,12 juta saham, disusul PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) sebanyak 250,80 juta saham, dan PT Reka Jasa Akses sebanyak 247,49 juta saham.

Dua entitas lain, yakni PT Komet Infra Nusantara dan PT Sarana Inti Persada, masing-masing mengonversi 47,35 juta saham dan 35,50 juta saham. Seluruh konversi ini dilakukan pada harga Rp 200 per saham, jauh di atas harga pasar BTEL yang terakhir tercatat di level Rp 50.

Di Balik Suspensi Sejak 2019

Masuknya Grup Djarum terjadi di tengah kondisi BTEL yang belum pulih. BEI telah menghentikan sementara perdagangan saham perusahaan sejak 27 Mei 2019. Suspensi berkepanjangan ini dipicu opini audit Disclaimer of Opinion (tidak menyatakan pendapat) untuk laporan keuangan tahun buku 2017 dan 2018 secara berturut-turut.

Kondisi itu membuat BEI mengumumkan potensi delisting. Namun, manajemen BTEL menyatakan terus berupaya memperbaiki kinerja keuangan. Corporate Secretary Bakrie Telecom, Purwoko Suatmadji, mengungkapkan bahwa laporan keuangan perseroan sejak periode 30 September 2020 hingga tahun buku Desember 2024 telah memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari auditor.

Nasib Saham di Ujung Tanduk

Meski ada suntikan pemegang saham baru, posisi BTEL di bursa masih belum aman. Otoritas BEI masih menunggu realisasi rencana pemulihan dari perseroan. Hingga kini, belum ada kepastian kapan suspensi akan dicabut dan saham BTEL bisa kembali diperdagangkan.

Masuknya grup menara telekomunikasi milik Djarum setidaknya memberi angin segar bagi struktur permodalan BTEL. Namun, langkah penyelamatan masih panjang: perusahaan harus mampu membuktikan keberlanjutan usahanya sebelum bursa memutuskan nasib pencatatannya.

Terkini

Fitch Soroti Risiko Kuasi Fiskal Danantara 2027

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:22 WIB

Alih Status Guru PPPK Beri Kelonggaran Fiskal

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:22 WIB

BNI Helat wondrX 2026 Bagikan Mobil Mewah

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:22 WIB

BNI Hadirkan Akses Eksklusif Tiket Konser Andrea Bocelli

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:22 WIB

Posko Peduli BNI Dampingi Anak Korban Gempa NTT Tersenyum

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:22 WIB