JAKARTA – Kinerja saham sektor perbankan melemah sepanjang paruh pertama 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks sektor keuangan (IDXFIN) turun 16,80 persen sepanjang Januari–Juni 2026.
Lesunya sektor keuangan tertekan oleh koreksi saham bank jumbo. Padahal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp8.759 triliun, tumbuh 11,51 persen yoy.
Sejak awal tahun hingga Kamis (2/7), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot 28,17 persen ke Rp5.800 dari Rp8.025 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 26,50 persen ke Rp2.690 dari Rp3.640. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) jatuh 23,53 persen ke Rp3.900 dari Rp5.075, sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) anjlok 27,46 persen ke Rp3.170 dari Rp4.260.
Analis Panin Sekuritas cabang Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai penurunan saham bank jumbo lebih banyak dipicu faktor eksternal seperti suku bunga global tinggi, arus dana asing, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran kualitas aset.
“Artinya, pertumbuhan kredit saja belum cukup menjadi katalis apabila market sentiment masih berhati-hati,” kata Elandry kepada Katadata, Kamis (2/7).
Memasuki semester kedua, Elandry melihat peluang perbaikan bila suku bunga acuan turun, arus dana asing kembali masuk, stabilitas rupiah terjaga, dan laba tetap solid. Ia menargetkan harga akhir tahun BBCA Rp9.000, BBRI Rp4.800, BMRI Rp5.800, dan BBNI Rp5.500.
Senada, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, masih merekomendasikan saham bank besar. Ia menilai koreksi harga membuat valuasi lebih menarik tanpa mengubah fundamental.
Untuk BBCA, Nafan menekankan kekuatan pendanaan dengan CASA tinggi, menjaga NIM stabil di 5,26 persen, NPL konsisten rendah, serta rencana pembagian dividen interim tiga kali setahun.
“BBCA tetap menjadi pilihan utama karena memiliki struktur pendanaan yang sangat kuat,” ujarnya.
Nafan mematok target harga BBCA Rp7.900 hingga akhir 2026. Untuk BBNI, ia menilai likuiditas kuat, jaringan luar negeri luas, serta fokus pembiayaan korporasi berkualitas menjadi keunggulan. Valuasi saham BBNI masih murah dengan PBV 0,8 kali.
Sementara BBRI dinilai menarik berkat integrasi Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM, dengan dividend payout ratio di atas 80 persen. Target harga BBRI Rp3.450.
Adapun BMRI dinilai mampu menjaga NPL rendah di kisaran 1 persen, dengan aplikasi Livin’ by Mandiri menjadi motor pertumbuhan fee-based income. Valuasi PBV BMRI masih di bawah rata-rata historis, membuka peluang kenaikan harga saham.