FINANSIALFOKUS.COM — Sebuah Porsche terperosok ke saluran air di Tol Desari Km 4.200 B, Depok, Sabtu (19/9/2026) pukul 18.45 WIB, setelah pengemudi diduga kehilangan kendali saat menghindari genangan. Praktisi keselamatan berkendara Sony Susmana menilai insiden ini sebagai contoh nyata bahaya aquaplaning di jalan basah. Tidak ada korban jiwa, tetapi bagian depan mobil rusak parah.
Kecelakaan tunggal terjadi di Tol Desari Km 4.200 B, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2026) sore. Mobil Porsche itu melaju di jalur 3 dari arah Sawangan menuju Antasari sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan.
Kapolsek Cinere Kompol Chairul Saleh menyebut pengemudi diduga kehilangan kendali saat menghadapi genangan air di jalur tersebut.
"Setiba Km 4 200 B diduga adanya genangan air lanjut pengemudi out off control," ujar Chairul dalam keterangannya, Minggu (20/9).
Momen Ketika Setir Dibanting ke Kiri
Menurut Chairul, pengemudi membanting setir ke kiri setelah berusaha menghindari genangan. Mobil lalu menabrak pembatas jalan dan terperosok ke saluran air.
"Menyebabkan kendaraan rusak di bagian depan, posisi terakhir kendaraan miring di dalam saluran air menghadap utara. (Korban) nihil," tambahnya.
Kerusakan terpusat di bagian depan mobil. Posisi akhir kendaraan miring di dalam saluran air dengan arah menghadap utara.
Aquaplaning, Saat Ban Kehilangan Cengkeraman
Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menduga Porsche tersebut mengalami aquaplaning. Kondisi ini terjadi ketika ban kehilangan traksi ke permukaan jalan karena terhalang lapisan air.
Efeknya, mobil serasa melayang di atas air. Kendaraan pun sulit dikendalikan meski dikemudikan dengan hati-hati.
Sony menilai hujan yang turun di sejumlah daerah saat itu membuat banyak pengemudi kurang mengantisipasi kondisi jalan. Menurut dia, pengemudi perlu lebih bijak menyikapi permukaan jalan yang licin.
"Hujan kan turun baru dua hari ini dan itu juga buatan, sehingga banyak pengemudi yang kurang mengantisipasi dan kurang bijak dalam menyikapi kondisi alas yang licin. Pastinya jika tidak menyesuaikan kecepatan dan manuver yang halus, akan mengalami under atau oversteer," kata Sony kepada detikOto, Minggu (20/9).
Gejala Awal yang Sering Diabaikan Pengemudi
Sony menjelaskan kecelakaan biasanya diawali gejala keseimbangan seperti body roll, body pitch, dan body bounce. Ketika gejala ini diabaikan karena pengemudi kurang sensitif, muncul kondisi paling berbahaya yaitu body yaw.
"Kendaraan sudah mulai selip dan yang terjadi adalah besar kemungkinan kecelakaan. Nggak peduli bannya lebar, mobilnya mewah, pengemudinya jago, apa pun bisa terjadi," ujarnya.
Peralihan lintasan dari kering ke basah, kata Sony, menuntut adaptasi. Mulai dari kontrol emosi, cara berkendara, sampai pemahaman atas potensi bahaya di sekitar.
Langkah Aman Saat Jalan Mulai Basah
Sony menyarankan pengemudi segera mengurangi kecepatan begitu hujan turun. Injak pedal secara halus, putar setir dengan lembut, dan pilih gear yang sesuai dengan kondisi jalan.
Dia juga mengingatkan agar tekanan angin ban tidak dikurangi untuk mengakali kondisi basah. Menurut Sony, cara itu justru memicu selip berlebihan.
"Segera kurangi kecepatan, injak pedal-pedal dengan smooth, manuver putar setir halus dan pilih gear yang tepat sesuai dengan kondisi basah. Dan ban jangan diakalin dengan dikurangi tekanan anginnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari selip berlebihan," pungkas Sony.