JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat penyaluran kredit mencapai Rp977,17 triliun hingga Agustus 2026.
Berdasarkan laporan keuangan BNI, penyaluran kredit tersebut tumbuh 27,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp768,60 triliun.
Pertumbuhan kredit tersebut diikuti peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Hingga Agustus 2026, DPK BNI mencapai Rp1.124,71 triliun.
Angka tersebut tumbuh 29,4 persen secara tahunan.
Berdasarkan komponennya, DPK BNI ditopang deposito yang tumbuh 63,7 persen menjadi Rp389,94 triliun.
Giro tercatat sebesar Rp442,62 triliun atau tumbuh 20,8 persen.
Sementara tabungan mencapai Rp292,13 triliun atau naik 10,5 persen.
Pertumbuhan kredit dan DPK turut tercermin dalam kinerja laba BNI.
BNI membukukan laba bersih secara bank only sebesar Rp14,33 triliun hingga Agustus 2026.
Laba tersebut tumbuh 6,9 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp13,40 triliun.
Pendapatan bunga BNI mencapai Rp51,56 triliun hingga Agustus 2026.
Sementara beban bunga tercatat sebesar Rp22,68 triliun.
Angka tersebut meningkat 20,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp18,78 triliun.
Dengan demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BNI mencapai Rp28,88 triliun hingga Agustus 2026.
Dari sisi neraca, total aset BNI per 31 Agustus 2026 mencapai Rp1.434,12 triliun.
Jumlah tersebut meningkat 23,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.160,18 triliun.
Aset BNI antara lain terdiri atas penempatan pada Bank Indonesia sebesar Rp104,86 triliun, penempatan pada bank lain Rp59,79 triliun, serta surat berharga yang dimiliki sebesar Rp175,29 triliun.q