Obligasi Pemerintah Juni 2026 Melemah 1,8 Persen Korporasi Hanya Turun 0,4 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 09:19:04 WIB
Ilustrasi Obligasi (sumber foto: NET)

JAKARTA – Pasar obligasi domestik menghadapi tekanan sepanjang Juni 2026. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta tingginya imbal hasil obligasi global membuat investor meminta premi risiko lebih besar untuk aset rupiah.

Tekanan ini tercermin dari kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) yang menekan harga obligasi. Yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang lebih tinggi juga mendorong investor beralih ke instrumen jangka pendek dengan risiko durasi lebih rendah.

Fixed Income Analyst PEFINDO Ahmad Nasrudin menjelaskan, pelemahan pasar obligasi merupakan konsekuensi penyesuaian imbal hasil rupiah. “BI Rate naik dari 5,25 persen pada akhir Mei menjadi 5,75 persen pada akhir Juni. Dalam periode yang sama, indeks dolar AS (DXY) juga menguat dari 98,94 menjadi 101,26, sehingga investor tetap meminta kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang aset rupiah,” ujarnya, Kamis (2/7).

Sepanjang Juni, yield SBN tenor dua tahun naik sekitar 47 basis poin (bps), tenor tiga tahun 49 bps, tenor lima tahun 33 bps, dan tenor 10 tahun 43 bps. Akibatnya, Indobex Government Bond Total Return Index terkoreksi 1,8 persen, lebih dalam dibandingkan Indobex Corporate Bond Total Return Index yang hanya turun 0,4 persen.

Yield SRBI tenor 12 bulan naik dari 6,92 persen pada akhir Mei menjadi 7,70 persen pada akhir Juni, membuat investor lebih tertarik pada instrumen jangka pendek. Ahmad menilai pasar obligasi memasuki fase yield tinggi, namun belum solid untuk pemulihan karena stabilitas rupiah, arus dana asing, likuiditas, dan suplai obligasi masih menjadi faktor penentu.

Obligasi korporasi relatif lebih tahan terhadap tekanan. Koreksi lebih terbatas karena pelemahan lebih dipengaruhi oleh kenaikan yield SBN sebagai acuan, bukan risiko kredit emiten. Spread kredit obligasi berperingkat A dan BBB bahkan cenderung menyempit, menunjukkan pasar belum melihat peningkatan risiko kredit sistemik.

Ahmad menambahkan, koreksi SBN juga dipengaruhi oleh faktor teknikal. Permintaan lelang SBN belum cukup kuat di tengah kebutuhan pembiayaan pemerintah yang tinggi. Sementara itu, karakteristik pasar obligasi korporasi yang lebih didominasi oleh strategi buy and hold membuat pergerakan harga lebih stabil.

Data PEFINDO menunjukkan yield efektif obligasi korporasi AAA tenor tiga tahun naik sekitar 59 bps, namun spread kredit hanya melebar 11 bps. Kondisi ini menegaskan bahwa penurunan indeks obligasi korporasi lebih banyak mengikuti kenaikan yield SBN, bukan karena investor menaikkan premi risiko kredit.

Terkini