JAKARTA – Saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 kembali menjadi sorotan investor setelah mengalami koreksi cukup dalam sepanjang 2026. Pertanyaannya, apakah saat ini waktunya mulai mengoleksi saham berkarakteristik blue chip?
Saham blue chip dikenal sebagai saham lapis satu dengan fundamental kuat, kapitalisasi pasar besar, dan likuiditas tinggi. Secara historis, sejumlah saham blue chip di Bursa Efek Indonesia kini diperdagangkan pada valuasi lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata beberapa tahun terakhir.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai penurunan valuasi sektor perbankan cukup signifikan, tercermin dari rasio price to book value (PBV) yang berada jauh di bawah rata-rata historis.
"Valuasi yang turun saat ini belum sepenuhnya mencerminkan risiko kondisi ekonomi yang dihadapi sektor perbankan. Ke depan, kondisi ekonomi masih berpotensi menekan pertumbuhan kredit, memicu kontraksi net interest margin (NIM), meningkatkan rasio kredit bermasalah (NPL), serta mendorong kenaikan biaya provisi," ujar Harry.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menambahkan valuasi saham blue chip saat ini lebih menarik dibanding rata-rata lima tahun terakhir. Contohnya:
- BBCA PER 11,9 kali (rata-rata historis 17 kali)
- BBRI PER 6,9 kali (rata-rata historis 9,9 kali)
- BMRI PER 6,1 kali (rata-rata historis 8,2 kali)
- KLBF PER 9,6 kali (rata-rata historis 15,6 kali)
- CPIN PER 7,8 kali (rata-rata historis 15,1 kali)
- ICBP PER 8,7 kali (rata-rata historis 13,5 kali)
Meski demikian, valuasi murah dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian suku bunga global, tensi geopolitik, arus keluar dana asing, serta ekspektasi pertumbuhan laba yang moderat.
Menurut Alrich, sektor yang mulai menawarkan peluang investasi antara lain perbankan (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI), consumer staples (ICBP, INDF, KLBF), poultry (CPIN, JPFA), dan telekomunikasi (TLKM).
Sebaliknya, beberapa saham dinilai sudah tidak murah, seperti MAPI, ITMG, AMMN, CUAN, serta sejumlah growth stocks lain.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengingatkan investor agar tidak hanya mengandalkan PER. Untuk sektor perbankan, indikator penting adalah PBV dan ROE, sementara sektor non-keuangan sebaiknya memperhatikan EV/EBITDA, earnings growth, dan free cash flow.
Elandry merekomendasikan beberapa saham berikut beserta target harga:
- BBCA: Rp9.000
- BBRI: Rp4.800
- BMRI: Rp5.800
- TLKM: Rp3.300
- ASII: Rp5.800
Meski valuasi sejumlah saham LQ45 saat ini lebih murah dibanding rata-rata historis, analis menekankan pentingnya memperhatikan fundamental, prospek laba, serta kondisi makroekonomi sebelum mengambil keputusan investasi.