JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Jumat (3/7/2026). Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.990–Rp18.050 per dolar AS, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah serta menanti data ketenagakerjaan Amerika Serikat.
"Untuk perdagangan Jumat (3/7/2026) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.990–Rp18.050," kata Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, Jumat (3/7/2026).
Sebelumnya, pada Kamis (2/7/2026), rupiah ditutup melemah 43 poin ke level Rp17.995 per dolar AS, setelah sempat tertekan hingga melemah 50 poin. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.950 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipicu kombinasi ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter AS. Qatar menyebut Iran dan AS mencatat kemajuan positif dalam pembicaraan tidak langsung di Doha, fokus pada keamanan lalu lintas maritim di Selat Hormuz serta pencairan dana Iran. Meski aktivitas pelayaran mulai normal, ketegangan belum sepenuhnya mereda.
Iran disebut berupaya memperoleh pengakuan internasional atas kendali Selat Hormuz dan berencana memberlakukan bea masuk pengiriman mulai pertengahan Agustus setelah masa bebas tarif berakhir. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali ke tingkat sebelum konflik, meski belum merinci angka.
Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga mencermati peluang perubahan kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai sekitar 67 persen.
Data ekonomi AS menunjukkan perlambatan. Laporan ADP Employment Change mencatat penambahan tenaga kerja sektor swasta hanya 98 ribu pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi 113 ribu dan turun dibandingkan 122 ribu pada Mei. ISM Manufacturing PMI juga turun menjadi 53,3 dari 54,0 bulan sebelumnya.
"Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3%," pungkas Ibrahim.
Dari dalam negeri, rupiah juga tertekan oleh sentimen negatif. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia melemah ke Rp17.994 per dolar AS dari Rp17.961 sehari sebelumnya. Ibrahim menilai kepercayaan pasar terhadap Indonesia menghadapi ujian cukup berat setelah muncul sentimen negatif, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran fiskal, defisit neraca perdagangan Mei sebesar 1,61 miliar dolar AS, inflasi melonjak, hingga penundaan pengumuman MSCI terkait pasar modal Indonesia.
Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia juga menunjukkan perlambatan. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia turun ke 46,9 pada Juni 2026, menjadi kontraksi terdalam dalam setahun terakhir.