Tren Gaya Hidup FOMO Picu Lonjakan Risiko Gagal Bayar Paylater

Tren Gaya Hidup FOMO Picu Lonjakan Risiko Gagal Bayar Paylater
Ilustrasi Bayar Paylater

JAKARTA – IdScore memperingatkan potensi lonjakan gagal bayar paylater di tengah pertumbuhan agresif sektor konsumtif yang didominasi oleh kelompok Gen Z dan Milenial.

Langkah waspada ini perlu diambil menyusul tren penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) yang terus meningkat pesat. PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) melihat adanya ancaman serius pada stabilitas kredit di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Pertumbuhan industri yang sangat ekspansif ini dinilai menyimpan risiko yang bersifat laten dan terakumulasi secara bertahap. Direktur Utama Pefindo Biro Kredit (IdScore) Tan Glant Saputrahadi menyebutkan bahwa konsentrasi risiko terbesar berada pada segmen konsumtif.

Kondisi tersebut terutama menyasar kalangan menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan dalam pengelolaan arus kas keuangan. Pengguna dari kalangan ibu rumah tangga hingga mahasiswa menjadi pihak yang paling sering memanfaatkan fasilitas pembiayaan ini.

“Risiko ini terutama terkonsentrasi pada segmen konsumtif dan debitur kelas menengah bawah seperti ibu rumah tangga, pekerja administrasi, serta pelajar dan mahasiswa yang mendominasi pengguna BNPL,” ujar Tan Glant sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tan Glant menjelaskan bahwa pertumbuhan BNPL yang agresif memicu penumpukan risiko kredit atau risk build-up. Hal ini dikhawatirkan belum sepenuhnya terdeteksi dalam laporan data agregat yang tersedia saat ini.

Efek negatif dari penumpukan risiko tersebut diprediksi akan mulai terasa ketika daya beli masyarakat tertekan faktor makroekonomi. Kondisi seperti inflasi dan suku bunga tinggi menjadi variabel yang dapat menekan kapasitas bayar debitur.

Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan sektor pembiayaan paylater di masa depan. Saat ini rasio kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) paylater masih berada pada kisaran level 5%.

Angka tersebut dipengaruhi oleh faktor struktural yang melekat pada model bisnis penyedia layanan BNPL itu sendiri. Fenomena multipayment menjadi salah satu sorotan utama karena satu orang bisa memiliki banyak akun sekaligus.

Situasi tersebut memicu terjadinya overleveraging yang sering kali tidak kasat mata secara data statistik makro. Banyak pengguna berasal dari kategori thin-file borrower yang memiliki catatan histori kredit sangat minim di sistem.

"Selain itu, banyak pengguna BNPL berasal dari kelompok thin-file borrower atau debitur dengan histori kredit minim. Hal itu membuat probabilitas gagal bayar menjadi lebih tinggi," lanjutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Metode penilaian kredit atau underwriting juga disoroti karena dianggap masih mengandalkan basis perilaku konsumsi semata. Cara ini dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kemampuan bayar yang nyata dari masing-masing individu peminjam.

Karakteristik utama dari BNPL yang bersifat konsumtif membuatnya tidak mampu menghasilkan arus kas bagi sang pengguna. Tan Glant menilai perilaku Gen Z yang terjebak tren ikut-ikutan menjadi faktor pendorong utama risiko ini.

“Karakteristik pembiayaan BNPL juga cenderung konsumtif dan tidak menghasilkan arus kas. Pengguna didominasi Gen Z dengan pola fear of missing out (FOMO) dan doom spending,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kemudahan proses meminjam atau frictionless borrowing membuat pengguna sering kali tidak sadar akan akumulasi utang mereka. Ketidakhadiran agunan dalam skema ini semakin memperlebar celah terjadinya gagal bayar paylater di lapangan.

Berdasarkan data yang dihimpun, kelompok usia muda merupakan segmen yang paling rentan terhadap kegagalan memenuhi kewajiban utang. Milenial tercatat mendominasi porsi pengguna sebesar 45% sedangkan Gen Z menyusul pada angka 43%.

“Mayoritas memiliki profil pendapatan tidak tetap, masih berada pada fase awal dunia kerja, serta menggunakan banyak platform pembiayaan sekaligus,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hingga Februari 2026, nilai outstanding paylater multifinance mencapai angka Rp 13,6 triliun dengan pertumbuhan 84,8% yoy. Sedangkan untuk kategori pinjaman daring atau pindar tercatat menyentuh angka fantastis yakni sebesar Rp 16,9 triliun.

Lonjakan pada sektor pinjaman daring tersebut bahkan mencapai 153,49% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Seluruh pihak diharapkan lebih bijak dalam mengelola pembiayaan agar terhindar dari jeratan utang yang tidak terkendali.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index