FINANSIALFOKUS.COM — Bali selama ini dikenal dengan keindahan alamnya. Tapi belakangan, destinasi wisata ini punya daya tarik lain yang mulai dilirik: kekayaan kuliner dan gastronomi lokal.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mencatat adanya pergeseran perilaku wisatawan. Mereka tidak lagi puas hanya dengan menyantap hidangan di restoran hotel, tapi ingin terlibat lebih jauh dalam proses kreatif membuat makanan tersebut.
Wisatawan Kini Pilih Masak Sendiri Pakai Bahan dari Pasar Lokal
Ketua PHRI Bali Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati mengamati tren menarik di kawasan vila dan daerah pedesaan seperti Ubud dan Kintamani. Wisatawan cenderung membeli bahan baku sendiri di pasar tradisional, lalu mencoba memasaknya sesuai imajinasi mereka.
"Urusan makan dan minum bukan urusan isi perut saja, tapi yang sekarang lebih menonjol lagi adalah experience. Kuliner sekarang sudah menjadi bagian pengalaman yang autentik bagi wisatawan untuk mengetahui cita rasa dan budaya satu daerah," ujarnya di Denpasar, Senin (31/8).
Fenomena ini membuka peluang besar bagi pariwisata berbasis gastronomi. Apalagi, Bali punya banyak produk pangan lokal yang belum dieksplorasi maksimal.
Cok Ace, sapaan akrabnya, bahkan menyayangkan kekayaan tersebut masih kalah populer dibanding daerah lain. Menurutnya, Indonesia belum punya banyak ikon kuliner yang dikenal dunia.
"Sekarang kami masih iri melihat daerah lain seperti China atau Italia. Bali yang begitu kaya produk makanan lokal, yang baru muncul sekarang baru satu saja, sate lilit. Yang lain-lainnya belum ada," kata mantan Wakil Gubernur Bali itu.
Okupansi Hotel Sedang Turun, Kuliner Jadi Peluang Baru
Catatan PHRI Bali menunjukkan okupansi hotel di seluruh Bali saat ini berada di angka 60-65 persen. Kawasan Sanur dan Ubud jadi yang paling menonjol, meskipun angka ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kendati begitu, tren kuliner dinilai menjadi celah yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha untuk menarik lebih banyak wisatawan. Pemerintah dan pelaku industri pun mulai melirik ajang yang bisa mempertemukan para pegiat di bidang ini.
Bali Interfood 2026: Wadah Inovasi Kuliner Lokal
Gelaran Bali Interfood 2026 resmi berlangsung pada 2-4 September 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Ini merupakan penyelenggaraan yang ketujuh kalinya.
Pameran tersebut diikuti 110 peserta, termasuk 35 UMKM dari delapan negara: Indonesia, China, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Jepang, dan Prancis. Penyelenggara menargetkan sekitar 15.000 pengunjung hadir di ajang ini.
CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim menyebut lokasi pameran di Bali bukan tanpa alasan. Industri pariwisata, perhotelan, dan kuliner di pulau ini berkembang beriringan, sehingga pelaku usaha punya pasar yang jelas.
"Bali memiliki potensi besar karena pariwisata, hotel, restoran, dan usaha makanan minuman berkembang bersamaan. Kami ingin menjadikan Bali Interfood sebagai tempat bagi pelaku usaha memperkenalkan produk, bertemu calon mitra, dan mendapatkan informasi perkembangan terbaru," jelas Daud.
Acara ini berlangsung bersamaan dengan beberapa pameran lain seperti Bali Hotel & Tourism, Bali Coffee Expo, Bali Wine & Spirit, dan Bakery Indonesia Expo 2026. Rangkaian kegiatannya pun beragam, mulai dari kualifikasi Gelato World Cup, workshop kuliner bareng koki profesional, sampai program business matching untuk industri hotel, restoran, dan kafe.
Bagi pelaku usaha kuliner atau perhotelan, kehadiran di pameran semacam ini bukan hanya soal pameran produk. Ini juga ruang strategis untuk memperkuat jejaring dan meningkatkan kreativitas.
"Pameran ini bukan hanya soal produk, tapi ruang sangat strategis bagi para pengusaha untuk memperkuat jejaring bisnis, meningkatkan kreativitas, dan memperkokoh daya saing," pungkas Cok Ace.