Widjaya Group Garap Kawasan Data Center, Salim dan The Ning King Ikut Ramaikan

Rabu, 02 September 2026 | 11:22:00 WIB

FINANSIALFOKUS.COM — Fenomena ini menegaskan bahwa data center tidak lagi sekadar bisnis operator telekomunikasi, melainkan lahan bisnis baru bagi pengembang properti industri. Kawasan industri yang semula identik dengan pabrik manufaktur, kini mulai dialokasikan untuk bangunan server dengan kebutuhan listrik dan konektivitas berkapasitas raksasa.

Mengapa Konglomerat Properti Melirik Bisnis Server?

Permintaan kapasitas data domestik melonjak seiring adopsi AI generatif dan transformasi digital sektor keuangan, kesehatan, hingga pemerintahan. Hyperscaler global seperti Google, Amazon, dan Microsoft juga terus memperluas investasi pusat data di Asia Tenggara, membuat lahan siap bangun dengan pasokan listrik stabil menjadi komoditas langka.

Para pengembang kawasan industri menilai ini celah strategis. Mereka tidak perlu menjadi operator data center, cukup menyediakan infrastruktur kawasan, pasokan daya, serta sertifikasi hijau yang menjadi syarat utama penyewa global.

Peta Keterlibatan Tiga Konglomerat

Belum ada rincian resmi mengenai nilai investasi dan kapasitas total dari masing-masing grup. Namun, keterlibatan nama-nama besar ini menunjukkan arah diversifikasi aset properti ke sektor digital yang permintaannya jauh lebih stabil dibandingkan kawasan industri konvensional.

  • Widjaya Group — dikenal melalui Sinar Mas, telah memiliki portofolio kawasan industri di berbagai wilayah dan kini mengalokasikan sebagian lahannya untuk ekosistem data center.
  • Salim Group — melalui entitas properti dan infrastrukturnya, mulai menyiapkan lahan dengan spesifikasi teknis untuk menarik penyewa global.
  • The Ning King — pengembang kawasan industri yang agresif memperluas jaringan, turut berkompetisi merebut pasar penyewaan lahan data center.

Daya Saing Indonesia di Peta Regional

Dibandingkan Singapura yang membatasi pembangunan data center baru karena keterbatasan lahan dan energi, Indonesia justru diuntungkan oleh luasnya wilayah dan potensi energi hijau. Kawasan industri di luar Jawa, terutama yang dekat dengan pembangkit listrik tenaga air atau panas bumi, menjadi lokasi paling diminati.

Pemerintah tengah mendorong percepatan melalui regulasi dan insentif untuk menarik investasi digital. Namun, tantangan utamanya tetap pada keandalan jaringan listrik, konektivitas serat optik lintas pulau, serta kepastian hukum bagi penyewa asing yang menuntut standar operasional tinggi.

Persaingan dan Prospek ke Depan

Persaingan tidak lagi antar pengembang lokal saja. Perusahaan konstruksi dan pengelola kawasan industri asal Jepang dan Korea Selatan juga mengincar pasar Indonesia. Keunggulan utama pemain lokal adalah penguasaan lahan dan perizinan yang lebih fleksibel.

Investor perlu mencermati pemain mana yang memiliki akses ke pasokan listrik hijau dan kerja sama dengan operator telekomunikasi. Kombinasi keduanya menjadi kunci untuk memenangkan kontrak penyewaan jangka panjang dari perusahaan teknologi global.

Investasi mengandung risiko.

Terkini