Gagasan Danantara Syariah Dinilai Mampu Dorong Produktivitas Wakaf

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:12:31 WIB
Kepala Departemen Ekonomi. ( sumber : net )

JAKARTA - Gagasan pembentukan Danantara Syariah dinilai memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan pengelolaan aset-aset syariah, khususnya aset wakaf, sehingga mampu mendorong produktivitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Dr Dadang Muljawan, seusai menjadi narasumber dalam Sidang Pleno XVI bertema "Penguatan dan Peningkatan Kontribusi Ekonomi dan Keuangan Syariah dalam Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat" pada sidang pleno XVI hari ketiga Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Ahad (26/7/2026).

Menurut Dadang, meski konsep Danantara Syariah masih berupa gagasan awal.

Keberadaannya berpotensi menjadi akselerator perbaikan tata kelola (governance) sumber-sumber pendanaan syariah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Kalau ide mengenai Danantara Syariah, kami baru dengar.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi suatu lembaga yang menjadi akselerator.

Kalau ini bisa meningkatkan governance sumber pendanaan, maka aset-aset yang selama ini belum optimal bisa lebih diupayakan,” ujarnya dari Sumbernya.

Pakar ekonomi syariah tersebut mencontohkan aset wakaf sebagai salah satu potensi besar yang selama ini belum sepenuhnya produktif.

Menurutnya, apabila dikelola melalui sistem yang baik, aset wakaf dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat.

“Seperti aset-aset wakaf sekarang ini kan banyak yang belum terakselerasi.

Kalau lembaga ini diinisiasi dengan bangunan sistem yang baik, maka bisa menjadi pendorong produktivitas,” katanya dari Sumbernya.

Dadang menjelaskan, optimalisasi aset wakaf tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga dapat berfungsi sebagai economic safety net atau jaring pengaman ekonomi, terutama ketika perekonomian menghadapi tekanan dari kondisi global.

“Dengan adanya aset-aset murah, kami akan kuat, baik saat ekonomi sedang baik maupun ketika berada dalam tekanan eksternal.

Ini bisa mendorong produktivitas ekonomi,” jelas dari Sumbernya.

Dadang menilai, keberadaan aset-aset wakaf produktif akan membantu masyarakat tetap memperoleh akses terhadap layanan dasar dengan biaya terjangkau, termasuk pendidikan dan kebutuhan pokok.

Sebagai contoh, Dadang menyebut pesantren di Indonesia yang mayoritas berdiri di atas tanah wakaf dan telah berkontribusi bagi pendidikan masyarakat sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.

“Pesantren ini kan wakaf semua.

Bahkan sejak sebelum kemerdekaan.

Itu menjadi salah satu tempat pencerdasan masyarakat Indonesia secara luas.

Itu wakaf yang tidak terbantahkan,” ujarnya dari Sumbernya.

Menurutnya, apabila produktivitas lembaga-lembaga berbasis wakaf terus ditingkatkan, maka Indonesia akan memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat ketika menghadapi perlambatan ekonomi.

“Bayangkan ketika ekonomi sedang dalam tekanan, kami masih disediakan pusat-pusat pendidikan murah dan lembaga-lembaga yang bisa menghasilkan bahan pokok dengan harga murah.

Ini akan sangat baik terhadap penurunan inflasi,” tuturnya dari Sumbernya.

Selain membahas potensi wakaf, Dadang juga menyoroti besarnya jumlah penduduk Muslim Indonesia yang harus menjadi kekuatan ekonomi, bukan sekadar pasar konsumsi.

“Market is the power.

Tapi jangan sampai kami hanya menjadi market.

Kami harus mengembangkan konteks-konteks ekonomi,” tegas dari Sumbernya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Bank Indonesia telah mengembangkan berbagai program pemberdayaan ekonomi syariah, salah satunya melalui pembangunan virtual market bagi pesantren.

Menurut Dadang, platform tersebut bertujuan membangun jejaring ekonomi antarpesantren sehingga produk yang dihasilkan dapat saling melengkapi dan memperkuat rantai pasok nasional.

“Pesantren satu memproduksi A, pesantren yang lain memproduksi B, tapi masing-masing bisa saling memenuhi.

Sehingga ke depan bisa mendorong substitusi impor.

Yang tadinya perlu impor, kami bisa produksi sendiri,” jelas dari Sumbernya.

Dadang berharap berbagai inisiatif yang dikembangkan Bank Indonesia dapat direplikasi oleh berbagai pihak sehingga menciptakan efisiensi ekonomi secara nasional.

“Kami dari Bank Indonesia mencoba menginisiasi pemikiran-pemikiran cerdas yang bisa direplikasi di tempat lain dan menjadi stimulasi bagi pihak lain untuk berpikir serta berkompetisi secara efisien.

Kalau ini mengejala, maka akan menciptakan efisiensi secara nasional,” pungkas dari Sumbernya.

Terkini