The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga Utama di Tengah Risiko Inflasi

Rabu, 29 Juli 2026 | 10:12:16 WIB
The Fed. ( sumber : net )

WASHINGTON - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) hendak mengadakan rapat mulai 28 Juli 2026.

Menyusul agenda tersebut, pelaku pasar memperkirakan the Fed menetapkan suku bunga acuan tetap.

Kondisi ini terjadi di tengah kecemasan inflasi yang berpotensi terdampak oleh konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Melansir Strait Times, Minggu (26/7/2026), Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat mengajukan penurunkan suku bunga kepada pihak the Fed.

Kendati demikian, mayoritas penanam modal memprediksi, the Fed menahan suku bunga acuan di level 3,5%-3,75%, pada pertemuan kelima, berdasarkan CME’s FedWatch.

Sementara itu inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) melandai ke angka 3,5% year on year di bulan Juni, namun masih jauh lebih tinggi dibanding acuan jangka panjang the Fed senilai 2%, yang belum tercapai selama lebih dari lima tahun.

Di sisi lain, semenjak pekan lalu, memanasnya ketegangan telah memicu serangan intensif AS serta balasan Teheran yang menyasar sekutu AS di seluruh area.

Pada saat yang sama, milisi Houthi Yaman hendak menutup jalur niaga minyak Laut Merah.

Gejolak tersebut mengakibatkan harga energi kembali melambung, dengan kontrak berjangka minyak acuan melebihi US$ 100 per barel untuk pertama kalinya semenjak akhir Mei, saat nilai energi tengah merosot.

Di internal The Fed, para penentu kebijakan telah kehilangan kesabaran terhadap inflasi yang membandel, menandakan bahwa pengetatan suku bunga mungkin terjadi dalam waktu dekat.

“The Fed harus siap untuk memperketat kebijakan moneter untuk mencegah terulangnya episode inflasi 2021-2022,” kata Gubernur Fed Chris Waller pekan lalu.

Semenjak dilantik, Warsh telah berjanji untuk memangkas atau menghapus volume panduan ke depan yang disajikan Fed dalam skema pengambilan keputusannya, sebuah langkah yang memicu reaksi beragam.

Pimpinan anyar tersebut mengungkapkan, menyajikan panduan ke depan mengikat para penentu kebijakan pada posisi yang barangkali perlu mereka sesuaikan.

Akan tetapi, sejumlah analis berpandangan ketidaktransparan dalam proses pengambilan keputusan menghadirkan lebih banyak ketidakpastian bagi pasar.

Lewat pernyataan publik sejak memegang kepemimpinan Fed, Warsh menyatakan mempunyai “komitmen yang teguh” dalam menjamin stabilitas harga, tetapi belum menyajikan detail mengenai bagaimanakah dan kapankah menurutnya tindakan itu pas dilakukan.

Fed mempunyai tugas ganda demi menjaga inflasi pada acuan jangka panjangnya sekaligus mewujudkan lapangan kerja maksimal.

Instrumen utamanya untuk meraih hal ini yakni suku bunga acuan ekonomi, menaikkan suku bunga cenderung menekan aktivitas ekonomi dan harga tinggi, sedangkan menurunkannya memacu perekrutan serta investasi namun juga sanggup memicu inflasi.

Sektor tenaga kerja AS secara umum telah stabil, dengan tingkat pengangguran yang konsisten kendati pertumbuhan lapangan kerja naik-turun, sehingga para penentu kebijakan secara umum berfokus pada inflasi.

"‘Komitmen yang teguh’, menurut pendapat saya, tidak cukup untuk memperketat kebijakan moneter dan mengekang tekanan inflasi,” ujar Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco.

Lantaran Warsh cenderung memilih bungkam, beberapa penentu kebijakan lainnya memilih menyuarakan keraguan mereka atas harga yang melonjak dan potensi perlunya tindakan dalam waktu dekat.

"Ketika Anda menciptakan kekosongan, seringkali kekosongan itu akan terisi,” kata Daco.

Mengingat inflasi utama melandai pada Juni, sebelum lonjakan lebih lanjut yang diproyeksikan bakal terjadi, para analis mengungkapkan tak mengantisipasi kenaikan suku bunga pada rapat kali ini, namun ketetapan tersebut berpeluang melahirkan sejumlah suara berbeda pendapat.

“Kami mungkin memiliki ketua baru, tetapi para pemimpin lama sekarang khawatir tentang ke mana arah perekonomian sejak awal tahun,” ujar Ekonom KPMG, Diane Swonk kepada AFP.

Inflasi tertekan tak sekadar akibat melambungnya harga bahan bakar imbas pertempuran, melainkan pula karena meningkatnya pemintaan akibat lonjakan pesat kecerdasan buatan serta dampak berkepanjangan dari tarif Trump yang kian menjalar ke seluruh roda ekonomi.

“Inti kebijakan moneter The Fed yang agresif tidak hanya semakin keras tetapi juga semakin meluas,” kata Swonk.

Ia memperhitungkan terjadi dua kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026.

Selepas dua hari pertemuan tertutup, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bakal menyampaikan keputusannya pada 29 Juli pukul 14.00 (02.00 pada 30 Juli, waktu Singapura), disusul oleh konferensi pers oleh Warsh.

Terkini