Frekuensi Lelang SRBI Dikurangi, BI Jaga Stabilitas dan Likuiditas

Frekuensi Lelang SRBI Dikurangi, BI Jaga Stabilitas dan Likuiditas
Lelang SRBI. ( sumber : net )

JAKARTA  - Bank Indonesia (BI) dipandang mulai menyeimbangkan keperluan mengawal stabilitas nilai tukar rupiah beserta usaha menjamin kecukupan likuiditas nasional, salah satunya lewat pemangkasan frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Sebagaimana diketahui, kurang lebih sejak Juni 2026 sampai sekarang lelang SRBI cuma dijalankan 1 kali dalam sepekan, atau merosot dari mulanya kira-kira 2-3 kali dalam sepekan.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengutarakan, penyusutan frekuensi lelang SRBI salah satunya dimungkinkan oleh situasi rupiah yang cenderung lebih stabil.

Akan tetapi, kondisi tersebut tak berarti keperluan stabilisasi rupiah sudah tuntas.

“Lebih tepat melihatnya sebagai bagian dari rekalibrasi bauran kebijakan BI sesuai dengan perkembangan kondisi pasar,” kata Faiz dari Sumbernya.

Sebagaimana diketahui, rupiah pada pasar spot dibuka menguat tipis 0006% ke level Rp 17.510 per dolar AS disertai mata uang di Asia yang beragam pada pagi ini (10/9/2026).

Namun, rupiah ditutup melemah 0,2% ke level Rp 15.547 per dolar AS.

Menurut pandangan beliau (note: diganti menjadi: Menurut pandangannya), ketika tekanan terhadap rupiah meninggi, SRBI masih sanggup dioptimalkan guna menyerap likuiditas sekaligus mengamankan daya tarik aset rupiah bagi kalangan investor.

Saat ini, BI dinilai kian menyeimbangkan di antara keperluan mengawal stabilitas rupiah serta menjamin kecukupan likuiditas domestik.

Hal tersebut krusial lantaran secara agregat likuiditas perbankan masih mencukupi, meski terdapat variasi kondisi likuiditas antar kelompok bank.

"Karena itu, BI juga mengoptimalkan instrumen lain seperti (Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial) KLM dan repo untuk mendukung penyaluran likuiditas dan memperkuat transmisi kebijakan moneter," ujar Faiz.

Faiz memaparkan, berkurangnya emisi SRBI menjadikan penyerapan likuiditas lewat sarana tersebut menjadi lebih kecil.

Dengan demikian, secara relatif lebih banyak likuiditas sanggup bertahan di dalam sistem perbankan.

Secara marginal, keadaan tersebut bernilai positif bagi likuiditas bank serta sanggup membantu meredakan tekanan biaya pendanaan.

Terlebih lagi, laju pertumbuhan kredit kini masih tergolong kuat apabila dikomparasikan bersama pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Dari sudut pandang pasar obligasi, berkurangnya pasokan SRBI turut berpotensi mengubah penempatan portofolio investor di pasar domestik.

SRBI dengan tenor yang cenderung singkat serta imbal hasil yang kompetitif selama ini menjadi salah satu alternatif instrumen bagi para pemodal.

Sewaktu pasokan SRBI menyusut, sebagian permintaan berpeluang pindah menuju Surat Berharga Negara (SBN) ataupun sarana pasar keuangan yang lain.

Secara marginal, situasi ini sanggup memberikan sokongan terhadap pasar SBN.

Walau begitu, pergerakan imbal hasil SBN bakal tetap dipengaruhi oleh bermacam faktor lain, semacam situasi global, keperluan penerbitan SBN, serta persepsi risiko investor.

Di sisi lain, Faiz mengingatkan adanya trade-off dari pemangkasan emisi SRBI.

Oleh karena itu, SRBI merupakan salah satu instrumen pada bauran kebijakan BI demi mengawal stabilitas rupiah, termasuk lewat pengelolaan daya tarik aset rupiah bagi investor nonresiden.

"Karena itu, ruang untuk mengurangi penerbitannya akan tetap bergantung pada perkembangan rupiah dan kondisi eksternal," jelas Faiz.

Pada momen berlainan, Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman turut berpendapat bahwa penurunan penerbitan SRBI pun bertautan dengan fungsi awal instrumen tersebut yang memang dirilis guna membantu mengawal stabilitas rupiah.

“(Lelang dikurangi) benar karena instrumen SRBI diluncurkan untuk menstabilkan Rupiah. Saat ini secara mtd (month to date), saham dan SBN sudah mencatatkan net inflow yang mendukung stabilitas Rupiah,” jelasnya.

Menurut Faisal, merosotnya emisi SRBI pun bertujuan menekan dampak crowding out serta menopang likuiditas perbankan.

Dengan begitu, likuiditas yang makin memadai di sektor perbankan diharapkan sanggup menyokong momentum ekspansi ekonomi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index