JAKARTA - Investor pemula dinilai perlu menentukan tujuan sebelum memilih instrumen investasi.
Hal itu penting agar pilihan investasi sesuai dengan jangka waktu dan tingkat risiko yang mampu ditanggung.
“Yang paling pertama harus jelas justru tujuan investasinya, bukan instrumennya,” ujar investor dan kreator Theo Derick dalam keterangan yang diterima Senin (24/8/2026) dari Sumbernya.
Theo menyampaikan pandangan tersebut dalam financial talkshow bertajuk “From Zero to Portfolio: Membangun Kebiasaan Investasi di Tengah Ekonomi yang Menantang” yang digelar PT BNI Sekuritas dalam rangkaian BNI WondrX 2026 di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Theo, tujuan investasi akan menentukan jangka waktu dan tingkat risiko yang realistis untuk diambil.
Kebutuhan dana darurat, biaya pernikahan, dan pensiun memiliki jangka waktu berbeda.
“Kalau urutannya dibalik, langsung loncat ke instrumen, banyak orang akhirnya ikut-ikutan tren padahal tidak cocok sama kondisi keuangannya sendiri,” katanya dari Sumbernya.
Jumlah investor pasar modal sendiri terus bertambah.
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor mencapai 30,30 juta Single Investor Identification (SID) per 7 Agustus 2026, meningkat 9,9 juta investor dibandingkan posisi akhir 2025.
Head of Retail Brokerage BNI Sekuritas Rohma Fitri Murniawati mengatakan pertumbuhan investor perlu diikuti peningkatan literasi pasar modal.
Edukasi diperlukan agar masyarakat memahami investasi yang sesuai dengan kebutuhan finansial masing-masing.
Pertumbuhan jumlah investor itu juga terjadi ketika aktivitas pasar saham menguat.
Sepanjang perdagangan 18–21 Agustus 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,93 persen ke level 6.525,69.
Rata-rata volume transaksi harian melonjak 47,90 persen menjadi 50,30 miliar saham.
Investor asing juga berbalik mencatat net buy Rp548,6 miliar dari net sell Rp1,58 triliun pada pekan sebelumnya.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menilai penguatan teknikal, peningkatan likuiditas, dan kembalinya arus dana asing menjadi katalis yang memperkuat momentum IHSG.
“Kombinasi penguatan teknikal, peningkatan likuiditas, dan berbaliknya arus dana asing menjadi katalis yang memperkuat momentum IHSG memasuki pekan berikutnya,” ujar Brigita dari Sumbernya.
Namun, Brigita mengingatkan ruang kenaikan IHSG dalam jangka pendek mulai terbatas setelah reli yang cukup kuat.
Potensi aksi ambil untung perlu diantisipasi.
Sebelumnya diberitakan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja positif pasar modal Indonesia pada pekan perayaan Kemerdekaan ke-81 RI.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat di level 6.525 dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 11.449 triliun.
“Data perdagangan saham di BEI selama periode 18–21 Agustus 2026 ditutup dengan kinerja yang positif,” tulis dari Sumbernya dalam keterangan resmi, Jumat (21/8/2026).
Tercatat, rata-rata volume transaksi harian BEI mengalami peningkatan tertinggi, yakni sebesar 47,9 persen menjadi 50,30 miliar lembar saham dari 34,01 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.
Adapun rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami peningkatan sebesar 5,52 persen menjadi 2,21 juta kali transaksi dari 2,09 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Rata-rata nilai transaksi harian turut mengalami peningkatan sebesar 2,36 persen menjadi Rp 15,57 triliun dari Rp 15,21 triliun pada pekan sebelumnya.
“Kemudian, pergerakan IHSG mengalami peningkatan 1,93 persen sehingga ditutup pada level 6.525,690 dari posisi 6.401,888 pada pekan sebelumnya. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI mengalami peningkatan 1,83 persen menjadi Rp 11.449 triliun dari Rp 11.243 triliun pada pekan sebelumnya,” ungkapnya dari Sumbernya.
BEI menyampaikan, investor asing pada akhir pekan ini mencatatkan nilai beli bersih Rp 974,58 miliar.
Adapun sepanjang tahun 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 70,64 triliun.