Keputusan Suku Bunga The Fed Menanti Hasil Rapat Dua Hari

Keputusan Suku Bunga The Fed Menanti Hasil Rapat Dua Hari
The Fed. ( sumber : net )

WASHINGTON - Otoritas moneter Amerika Serikat (AS) alias the Federal Reserve (the Fed) bakal melangsungkan musyawarah mulai 28 Juli 2026.

Menyertai musyawarah tersebut, pasar meramalkan the Fed mempertahankan suku bunga acuan.

Hal ini di tengah kekhawatiran inflasi yang sanggup dipengaruhi pertikaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip dari Sumbernya, Minggu (26/7/2026), Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memohon untuk suku bunga lebih rendah kepada the Fed.

Walau demikian, mayoritas pemodal memprediksi, the Fed mempertahankan suku bunga acuan 3,5%-3,75%, pada pertemuan kelima, menurut CME’s FedWatch.

Sementara inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) merosot ke 3,5% year on year pada Juni, namun tetap jauh lebih tinggi ketimbang sasaran jangka panjang the Fed sebesar 2%, yang belum tercapai lebih dari lima tahun.

Pada aspek lain, semenjak pekan lalu, eskalasi konflik telah mengakibatkan serangan masif AS dan aksi balasan Teheran yang mengincar sekutu AS di seluruh area.

Pada waktu bersamaan, pemberontak Houthi Yaman bakal memblokade alur niaga minyak Laut Merah.

Gejolak tersebut telah memicu harga energi melambung kembali, dengan kontrak berjangka minyak acuan menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei, saat harga energi sedang melandai.

Internal The Fed, para pembuat kebijakan telah kehilangan kesabaran atas inflasi yang terus-menerus, mengindikasikan bahwa pengetatan suku bunga mungkin bakal segera terjadi.

“The Fed harus siap untuk memperketat kebijakan moneter untuk mencegah terulangnya episode inflasi 2021-2022,” kata Gubernur Fed Chris Waller pekan lalu.

Sejak menduduki jabatan, Warsh telah berjanji guna mengurangi atau menghapuskan kuantitas panduan ke depan yang dihadirkan Fed dalam alur pengambilan keputusannya, suatu langkah yang memanen respons beraneka ragam.

Pemimpin anyar tersebut menyampaikan, menyajikan panduan ke depan mengunci para pembuat kebijakan pada posisi yang boleh jadi perlu mereka ubah.

Meskipun begitu, beberapa pengamat menilai ketidaktransparanan pada pengambilan keputusan melahirkan lebih banyak ketidakpastian bagi pasar.

Dalam penyataan publik semenjak memegang kepemimpinan Fed, Warsh menerangkan memiliki “komitmen yang teguh” demi menghadirkan stabilitas harga, namun belum menyajikan perincian mengenai bagaimanakah dan kapankah menurutnya tindakan tersebut pas untuk dieksekusi.

Fed memiliki tugas ganda demi menjaga inflasi pada sasaran jangka panjangnya sekaligus menyediakan lapangan kerja maksimal.

Sarana utamanya demi meraih hal ini yakni suku bunga acuan ekonomi, menaikkan suku bunga berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan harga tinggi, sementara menurunkannya memacu perekrutan dan investasi tetapi juga sanggup memicu inflasi.

Bursa tenaga kerja AS secara umum telah stabil, dengan angka pengangguran yang stabil kendati pertumbuhan lapangan kerja berubah-ubah, sehingga para pembuat kebijakan sebagian besar fokus pada inflasi.

"‘Komitmen yang teguh’, menurut pendapat saya, tidak cukup untuk memperketat kebijakan moneter dan mengekang tekanan inflasi,” ujar Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco.

Sebab Warsh sebagian besar tetap diam, beberapa pembuat kebijakan lainnya telah angkat bicara mengenai kekhawatiran mereka terhadap harga yang tinggi dan potensi perlunya tindakan dalam waktu dekat.

"Ketika Anda menciptakan kekosongan, seringkali kekosongan itu akan terisi,” kata Daco.

Lantaran inflasi utama yang merosot pada Juni, menjelang kenaikan lanjutan yang diproyeksikan terjadi, para analis menyampaikan tidak mengantisipasi kenaikan suku bunga pada pertemuan ini, namun ketetapan tersebut berpotensi menimbulkan sejumlah suara yang berbeda pendapat.

“Kami mungkin memiliki ketua baru, tetapi para pemimpin lama sekarang khawatir tentang ke mana arah perekonomian sejak awal tahun,” ujar Ekonom KPMG, Diane Swonk kepada AFP.

Inflasi ada di bawah tekanan bukan cuma lantaran kenaikan harga bahan bakar imbas perang, namun juga imbas meningkatnya permintaan dari pesatnya kecerdasan buatan dan efek berlanjut dari tarif Trump yang terus merembet ke seluruh sektor ekonomi.

“Inti kebijakan moneter The Fed yang agresif tidak hanya semakin keras tetapi juga semakin meluas,” kata Swonk.

Dirinya memperkirakan dua kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026.

Usai dua hari sesi tertutup, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan mengumumkan keputusannya pada 29 Juli pukul 14.00 (02.00 pada 30 Juli, waktu Singapura), diikuti oleh konferensi pers oleh Warsh.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index