JAKARTA - Bank-bank yang masuk dalam kategori KBMI IV menorehkan peningkatan portofolio penyaluran kredit sampai dengan bulan Mei 2026.
Walaupun demikian, apabila dikomparasikan dari aspek kecepatan akselerasi pertumbuhan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.(BBNI) muncul sebagai lembaga perbankan yang paling ekspansif dalam memperluas cakupan pembiayaan mereka.
Jika ditinjau dari akumulasi nominal dana yang disalurkan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.(BMRI) tetap kokoh mempertahankan kedudukannya sebagai penguasa pasar.
Berdasarkan data dari laporan keuangan bulanan yang diterbitkan oleh tiap perbankan, BNI sukses membukukan lonjakan persentase kredit tertinggi yang menyentuh angka 24,55% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Nilai tersebut bergeser naik ke posisi Rp940,88 triliun per Mei 2026, jika dibandingkan dengan performa pada periode serupa di tahun sebelumnya yang senilai Rp755,44 triliun.
Berada tepat di bawah posisi BNI, Bank Mandiri mencatatkan laju pertumbuhan kredit sebesar 20,64% YoY.
Akumulasi nominalnya merangkak naik menuju angka Rp1.579,94 triliun dari catatan sebelumnya sebesar Rp1.309,68 triliun pada Mei 2025.
Sementara itu, pihak BRI menorehkan angka kenaikan kredit di level 12,23% YoY dengan total nilai menyentuh Rp1.417,19 triliun.
Di sisi lain, BCA mencatatkan kurva peningkatan yang terhitung lebih kalem yaitu sebesar 4,85% YoY ke posisi Rp969,09 triliun.
Kendati akselerasi persentase BNI menjadi yang paling melesat, Bank Mandiri tidak tergoyahkan sebagai institusi perbankan dengan portofolio kredit paling masif di tanah air.
Akumulasi pembiayaan yang dilepas oleh perusahaan hampir menembus Rp1.580 triliun.
Posisi berikutnya ditempati oleh BRI dengan catatan Rp1.417,19 triliun.
Selanjutnya disusul oleh BCA senilai Rp969,09 triliun.
Pada urutan akhir di kelompok ini ditempati oleh BNI dengan nilai Rp940,88 triliun.
Secara makro, arus penyaluran kredit yang dilepas oleh industri perbankan pada Mei 2026 memperlihatkan tren menanjak.
Mengacu pada data dokumen Analisis Uang Beredar yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI), total pembiayaan yang didistribusikan oleh industri menyentuh angka Rp8.759,0 triliun.
Catatan tersebut merepresentasikan pertumbuhan sebesar 10,8% secara tahunan (year on year/YoY).
Pencapaian riil ini tercatat lebih memuaskan ketimbang laju pertumbuhan pada April 2026 yang hanya berada di level 9,4% YoY.
Akselerasi pendistribusian dana ini utamanya disokong oleh aliran modal ke kelompok nasabah korporasi besar yang melesat di angka 17,2% YoY.
Performa tersebut mengalami peningkatan bila disandingkan dengan catatan bulan sebelumnya yang berada di level 14,5% YoY.
Sementara itu, perputaran dana ke kelompok nasabah individu bergerak dengan ritme yang relatif konstan di angka 3,4% YoY.
Di sisi lain, untuk kelompok nasabah kategori lainnya justru mengalami penyusutan sebesar 10,3% YoY.
Bila ditinjau berdasarkan fungsi pemanfaatannya, pihak otoritas moneter merilis data bahwa Kredit Modal Kerja (KMK) pada Mei 2026 terkerek naik 7,9% YoY.
Kenaikan ini dipicu oleh suburnya penyaluran modal ke area sektor pertambangan dan penggalian, serta wilayah sektor industri pengolahan dan bidang sejenisnya.
Sektor kredit investasi turut mendapati lonjakan performa sebesar 20,5% YoY, dari catatan sebelumnya yang berkembang di angka 18,4% YoY.
Kondisi positif ini dipengaruhi oleh perluasan di area sektor keuangan, real estat, serta bidang jasa korporasi ditambah sektor pengangkutan dan komunikasi.
Sementara itu, untuk sektor kredit konsumsi merangkak naik di level 5,8% YoY.
Angka ini memperlihatkan dinamika perlambatan jika dikomparasikan dengan laju pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang berada di posisi 6,0%.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengemukakan bahwa fungsi intermediasi yang dijalankan oleh perusahaan terus memperlihatkan tren yang menjanjikan sepanjang lima bulan perdana pada tahun ini.
Menurut penuturan Novita, perputaran modal tersebut dialirkan ke bermacam-macam sektor ekonomi produktif.
Aliran dana mencakup pembiayaan untuk proyek hilirisasi industri sampai ke sektor permodalan UMKM yang menjadi pilar penyangga roda ekonomi domestik sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
“Kinerja ini merupakan hasil dari eksekusi strategi yang terukur dan konsisten di seluruh lini bisnis, dengan pengelolaan risiko yang disiplin dan penuh kehati-hatian untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat dalam jangka panjang,” ujar Novita dalam keterangan resminya.
Di lain pihak, BRI tetap menaruh kepercayaan pada kekuatan lini bisnis retail serta pemberdayaan UMKM sebagai motor penggerak utama ekspansi kredit mereka.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa laju pembiayaan perusahaan sampai dengan Mei 2026 masih disokong kuat oleh segmen pelaku UMKM yang konsisten memperlihatkan performa tangguh.
Di samping sektor UMKM, Hery memaparkan bahwa lini kredit konsumer, khususnya produk kredit pemilikan rumah (KPR), turut menyumbang portofolio yang menggembirakan.
Andil dari jajaran perusahaan anak, termasuk di dalamnya PT Pegadaian, ikut andil dalam memperkokoh ekspansi pembiayaan yang dijalankan oleh BRI.
“Pendorongnya tetap UMKM, kemudian consumer juga tumbuh, KPR juga mengalami pertumbuhan. Perusahaan anak seperti Pegadaian juga mengalami pertumbuhan yang cukup baik,” ujar Hery saat ditemui di sela-sela agenda OJK Banking Forum, Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
Hery memberikan penjelasan tambahan bahwa BRI tetap berjalan di koridor target pendistribusian kredit yang selaras dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah diserahkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sampai dengan saat ini, manajemen korporasi belum mengambil langkah untuk merombak estimasi target tersebut.
Walaupun demikian, pihak BRI tetap memantau dengan cermat dinamika pergerakan suku bunga pasar yang posisinya dinilai masih relatif tinggi.
Pihak perbankan menaruh harapan agar tekanan suku bunga ini tidak berjalan dalam durasi yang terlampau lama.
Harapannya, gairah permohonan kredit dapat berangsur membaik pada paruh kedua di tahun ini.
Pada sisi yang berbeda, manajemen BCA menjatuhkan pilihan untuk tetap mengedepankan aspek keseimbangan antara strategi ekspansi kredit dengan kecukupan cadangan likuiditas perusahaan.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F.Haryn mengemukakan bahwa perusahaan terus memacu pendistribusian dana ke seluruh sektor ekonomi.
Langkah ini dijalankan dengan tetap menempatkan prinsip kehati-hatian serta kedisiplinan pengelolaan risiko di posisi prioritas.
Per Mei 2026, catatan kredit bank only milik BCA menyentuh nominal Rp969 triliun.
Angka ini tumbuh dalam koridor yang sehat seirama dengan dinamika laju ekonomi serta tingkat permintaan pembiayaan pasar.
“BCA senantiasa mendorong penyaluran kredit ke semua sektor dan segmen dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko,” kata Hera, Selasa (14/7/2026).
Menatap masa depan, lanjutnya, manajemen BCA berkomitmen untuk tetap mengelola instrumen likuiditas secara bijak.
Langkah ini dibarengi dengan mencermati pergolakan ekonomi baik di tingkat domestik maupun di skala global.
Perusahaan juga bakal terus mencurahkan fokus pada aspek fundamental bisnis demi menjamin mutu dari pertumbuhan kredit tetap berada dalam kondisi prima.
Arianto Muditomo selaku Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran memberikan analisis bahwa ekspansi kredit yang ditunjukkan oleh jajaran bank KBMI IV sepanjang awal tahun 2026 tidak semata-mata dipicu oleh kapasitas internal masing-masing bank dalam melepas pembiayaan.
Kondisi tersebut juga ditopang kuat oleh tingkat ketahanan fundamental yang dimiliki oleh bank-bank itu sendiri.
Menurut pandangan Arianto, kelompok bank papan atas ini mengantongi keunggulan strategis dari aspek kapasitas modal, luasnya jaringan korporasi, keterlibatan dalam pembiayaan proyek milik negara, agenda hilirisasi, hingga akselerasi pada sektor kredit investasi.
Rangkaian faktor penunjang ini menjadikan kelompok bank besar memiliki ruang gerak yang jauh lebih leluasa untuk memperbesar volume penyaluran kredit ketimbang para kompetitor di level bawah.
Ia juga memberikan penilaian bahwa kebijakan penempatan instrumen dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pada bank-bank berstatus BUMN turut andil dalam memperkokoh ketahanan likuiditas sekaligus menekan tingkat biaya dana (cost of fund).
Walaupun demikian, aspek tersebut ditegaskan olehnya bukanlah menjadi satu-satunya faktor tunggal yang memacu roda pertumbuhan kredit.
“Efektivitas penempatan SAL tetap ditentukan oleh kemampuan bank mengalirkannya ke sektor riil yang produktif,” ujar Arianto, Selasa (14/7/2026).
Menurut argumennya, di kala eskalasi risiko geopolitik tengah meningkat, ditambah pelemahan pada nilai tukar mata uang rupiah, serta tingginya volatilitas harga komoditas energi, pihak perbankan mutlak harus memegang teguh prinsip kehati-hatian.
Langkah ini penting agar akselerasi kredit tidak diiringi oleh lonjakan risiko pembiayaan bermasalah.
Lebih mendalam lagi, Arianto melihat fakta dominasi bank-bank raksasa dalam kancah penyaluran kredit ini mempunyai dua sisi mata uang yang berbeda.
Pada satu sudut pandang, bank berskala jumbo dinilai andal dalam memperkuat jalur transmisi pembiayaan.
Hal ini dikarenakan mereka didukung oleh kecukupan modal, ketersediaan likuiditas, sokongan teknologi modern, serta kapasitas sistem manajemen risiko yang mumpuni untuk mendanai proyek strategis nasional.
Proyek tersebut mencakup sektor pembangunan infrastruktur, industri manufaktur, hilirisasi, ketahanan energi, hingga ke jaringan rantai pasok nasional.
Namun di sudut pandang sebaliknya, ia memberikan peringatan bahwa dominasi yang terlalu pekat tersebut menyimpan risiko memperlebar jarak kesenjangan pangsa pasar di industri perbankan.
Dampak negatif ini bisa terjadi apabila alokasi tambahan likuiditas kedapatan hanya berputar dan mengalir kepada entitas korporasi raksasa serta kelompok debitur yang memiliki kualitas kelas atas saja.
Situasi semacam itu dikhawatirkan dapat membuat para pelaku UMKM maupun institusi bank skala kecil menjadi semakin terjepit dalam memperoleh jangkauan terhadap opsi pendanaan yang murah.
Oleh sebab itu, Arianto memberikan saran agar kebijakan penempatan dana SAL idealnya disertai dengan penetapan target penyaluran dana yang terukur.
Sasaran diarahkan ke sektor-sektor riil yang produktif, pemberdayaan UMKM, fasilitas pembiayaan rumah tinggal, hingga menyasar sektor industri yang fokus pada orientasi ekspor maupun substitusi impor produk.
Ia juga memberikan dorongan untuk dilakukannya penguatan pada skema pembiayaan bersama atau sindikasi serta program linkage yang melibatkan bank pembangunan daerah (BPD) beserta bank-bank di skala yang lebih kecil.
Tujuan akhirnya adalah agar limpahan manfaat dari instrumen likuiditas tersebut dapat terdistribusi secara lebih merata ke seluruh lini sektor perekonomian.