Tingkatkan Mutu RS, FK UNDIP Perkuat Konsultasi Etik

Tingkatkan Mutu RS, FK UNDIP Perkuat Konsultasi Etik
Kolaborasi dengan NUS Singapura dan HESS Malaysia, FK UNDIP dapat membangun jejaring internasional yang berkelanjutan. (Foto: dok. FK UNDIP)

Semarang – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) dalam meningkatkan mutu pendidikan kedokteran dan profesionalisme tenaga kesehatan melalui penyelenggaraan Clinical Ethics Deliberation Workshop: Approaches to Addressing Conflict in Clinical Practice.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi internasional antara FK UNDIP, Centre for Bioethics National University of Singapore (NUS), dan Hospital Ethics Service Support (HESS) Hospital Ampang Malaysia yang dilaksanakan secara daring pada 22 Mei 2026 dan dilanjutkan dengan workshop luring pada 6–7 Juni 2026 di Gedung Mayjen dr. R. Soewondo Sastrodiprojo, FK UNDIP, Kampus Tembalang Semarang.

Ketua Departemen Kedokteran Spesialis FK UNDIP, Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes., Sp.M(K)., FICS., FISCM menegaskan bahwa pengembangan etika klinis menjadi kebutuhan di tengah kompleksitas pelayanan kesehatan modern.

“Rumah sakit saat ini tidak hanya menghadapi tantangan klinis, tetapi juga berbagai persoalan etik yang melibatkan keterbatasan sumber daya, pembiayaan pelayanan kesehatan, akses terhadap teknologi medis, hingga perbedaan harapan antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, kapasitas konsultasi etik klinis dan peran Komite Etik Rumah Sakit harus diperkuat agar setiap keputusan dapat diambil secara profesional, manusiawi, dan berkeadilan,” katanya.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa FK UNDIP siap mengambil peran strategis dalam pengembangan etika klinis di kawasan Asia.

Selanjutnya, melalui kolaborasi dengan NUS Singapura dan HESS Hospital Ampang Malaysia, FK UNDIP tidak hanya berupaya meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia, tetapi juga menyiapkan diri untuk menjadi salah satu pusat unggulan dan leader dalam pengembangan pendidikan, penelitian, serta praktik clinical ethics di Asia.

“Kami ingin membangun ekosistem etika klinis yang kuat dan menjadi rujukan bagi pengembangan kapasitas komite etik rumah sakit di kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.

Webinar 22 Mei 2026

Rangkaian kegiatan diawali dengan webinar internasional yang menghadirkan para pakar etika klinis dari Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Pada sesi pembukaan, peserta memperoleh pemahaman mengenai peran dan fungsi Clinical Ethics Committee melalui paparan Assoc. Prof. Chan Mei Yoke dari NUS Centre for Bioethics sekaligus Ketua Clinical Ethics Committee KK Hospital Singapura. Dia juga membahas metode Formulating an Ethics Question, yaitu pendekatan sistematis dalam mengidentifikasi dan merumuskan permasalahan etik dalam praktik klinis.

Selanjutnya, Dr. Tan Hui Siu, MBE, HEC-C dari Hospital Ethics Service Support Ampang Hospital Malaysia memaparkan Basic Structure of an Ethics Consultation serta Principles and 4-Box Methods Framework, sebuah kerangka analisis etik yang banyak digunakan dalam konsultasi etik klinis. Perspektif Indonesia disampaikan oleh dr. Tuntas Dhanardhono, MSi.Med, MH, Sp.FM yang membahas Regulations of Committees in Indonesian Hospital, diikuti diskusi panel mengenai perbedaan sistem komite etik di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

Workshop Luring 6–7 Juni 2026

Pada kegiatan luring, peserta memperoleh pembelajaran yang lebih mendalam melalui kuliah interaktif, simulasi kasus, dan latihan deliberasi etik.

Hari pertama workshop dibuka dengan materi Models of Clinical Ethics Deliberation oleh drg. Agnes Bhakti Pratiwi, MPH, PhD dari Universitas Gadjah Mada yang membahas berbagai model pengambilan keputusan etik dalam pelayanan kesehatan.

Selanjutnya, Dr. dr. Bagas Wicaksono dari Universitas Jenderal Soedirman menyampaikan materi mengenai Ethics Education in Indonesia & Palliative Care, yang menyoroti pentingnya pendidikan etika dan pendekatan paliatif dalam pelayanan pasien.

Sesi internasional dilanjutkan oleh Assoc. Prof. Chan Mei Yoke dengan materi Relational Autonomy, yang menekankan pentingnya hubungan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan klinis. Kemudian Dr. Tan Hui Siu menyampaikan materi Mediating Conflict, yang membahas strategi mediasi konflik dalam pelayanan kesehatan secara profesional dan konstruktif.

Peserta kemudian mengikuti Case Simulation (Role Play), deliberasi etik kelompok, serta presentasi hasil diskusi yang dipandu oleh seluruh fasilitator nasional dan internasional dengan leader dr. Ardita Hartanti Pramudani, SM.

Melalui simulasi tersebut, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam mengidentifikasi dilema etik, mengeksplorasi nilai dan preferensi pasien serta keluarga, dan merumuskan rekomendasi etik yang dapat diterapkan dalam praktik klinis.

Pada hari kedua, dr. Edward KSL, Sp.PK(K), M.Hkes., MM., M.Sc. dari FK UNDIP menyampaikan materi Challenges of Clinical Ethics Committees in Indonesia, yang mengulas berbagai tantangan pengembangan komite etik klinis di rumah sakit Indonesia. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi umpan balik, forum diskusi, refleksi kasus, dan penutupan workshop.

Menuju Pusat Unggulan Clinical Ethics

Penyelenggaraan workshop ini menjadi langkah strategis FK UNDIP dalam memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, akademisi, serta Komite Etik Rumah Sakit dalam menghadapi berbagai dilema etik yang semakin kompleks, mulai dari keterbatasan sumber daya kesehatan, keputusan pembatasan terapi, konflik antara keluarga dan tenaga kesehatan, hingga isu medical futility dan pembiayaan layanan kesehatan.

Melalui kolaborasi dengan NUS Singapura dan HESS Malaysia, FK UNDIP dapat membangun jejaring internasional yang berkelanjutan dan mengembangkan Center of Excellence Clinical Ethics yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penelitian etika klinis di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index