Dampak Kenaikan Suku Bunga BI Bank Tabungan Negara Menyesuaikan RBB

Dampak Kenaikan Suku Bunga BI Bank Tabungan Negara Menyesuaikan RBB
Ilustrasi Bank Indonesia (sumber foto: NET)

JAKARTA - Sebuah bank badan usaha milik negara melakukan penyesuaian terhadap sejumlah asumsi dalam rencana bisnis bank setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen. Meski demikian, perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8 persen hingga 10 persen sepanjang 2026.

Penyesuaian yang dilakukan terutama menyangkut asumsi nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga. Namun, dari sisi penyaluran kredit, korporasi masih optimistis dapat mencapai target yang telah ditetapkan sejak awal tahun.

“Kredit asumsinya kami masih berani, karena dari awal kami 8-10 persen,” ujar pihak manajemen.

Keyakinan tersebut didukung oleh tambahan portofolio yang diperoleh dari lembaga mitra keuangan internasional, sehingga pertumbuhan kredit dinilai masih dapat terjaga sesuai target.

“Gak apa-apa kami berani, karena kami udah beli portofolio dari SMBC, jadi growth-nya sih nyampe,” tambahnya.

Meski demikian, emiten berkode saham terkait masih mencermati arah kebijakan suku bunga ke depan. Manajemen berharap kenaikan BI Rate tidak akan terjadi lagi, sehingga tidak perlu melakukan penyesuaian lebih lanjut terhadap target bisnis.

“Makanya ini kami lagi lihat lagi apakah kenaikan ini masih berlanjut. Kami berharap nih kenaikannya berhenti ya. Kalau masih naik lagi, memang ada kemungkinan kami review apakah sedikit diturunkan, tapi mudah-mudahan naiknya gak terlalu berat. Tapi kalau ngelihat kemarin kan kurs kayaknya udah mulai di bawah 18 ribu ya? Kami lihat aja konsistensinya,” tuturnya.

Di sisi kualitas aset, korporasi tetap optimistis bahwa rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) dapat dipertahankan di bawah 3 persen hingga akhir tahun. Optimisme tersebut didukung oleh proyeksi pertumbuhan kredit yang masih sesuai rencana.

“NPL kami masih yakin, karena growth-nya tadi tercapai, maka kami masih percaya bisa keep di bawah 3 persen,” jelasnya.

Sementara itu, kenaikan suku bunga acuan turut memberikan tekanan terhadap biaya dana atau cost of funds perusahaan. Manajemen mengungkapkan cost of funds perseroan diperkirakan meningkat dari 3,1 persen menjadi 3,33 persen.

Kenaikan biaya dana tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam melakukan revisi asumsi bisnis di tengah dinamika suku bunga dan pasar keuangan global.

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index