JAKARTA – Perlambatan pertumbuhan KPR menjadi gambaran kondisi sektor properti yang belum sepenuhnya pulih pada awal 2026. Di tengah tekanan tersebut, hanya segelintir bank yang mampu mencatatkan kinerja menonjol.
Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan masih cenderung terbatas pada kuartal I-2026. Sejumlah bank besar tercatat hanya membukukan pertumbuhan single digit, mencerminkan belum pulihnya permintaan di sektor properti.
PT Bank Central Asia (BBCA) misalnya, mencatatkan pertumbuhan penyaluran KPR sebesar 5,25% secara tahunan mencapai Rp 142,4 triliun di kuartal I-2026 dari Rp 135,3 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Kemudian, PT Bank Mandiri mencatatkan penyaluran KPR sebesar Rp 69,5 triliun atau naik 5,78% secara year on year (yoy).
Bahkan bank penyalur KPR terbesar di Indonesia yakni PT Bank Tabungan Negara (BTN) hanya mencatatkan pertumbuhan penyaluran KPR sebesar 6,84% mencapai Rp 306,12 triliun pada kuartal I-2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor properti masih menghadapi tantangan permintaan yang belum kuat.
Adapun penyaluran KPR PT Bank Negara Indonesia (BNI) terlihat tumbuh 9,32% yoy mencapai Rp 73,9 triliun. Hanya PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mencatatkan pertumbuhan penyaluran KPR double digit atau 11,06% yoy mencapai Rp 67,3 triliun di kuartal I-2026.
Jika dilihat berdasarkan data Bank Indonesia (BI) penyaluran KPR juga masih terbatas, hanya tumbuh 4,5% di Maret 2026 mencapai Rp 842,7 triliun. Pertumbuhannya terlihat lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 5%.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, terutama daya beli masyarakat yang belum mengalami peningkatan signifikan. “Kalau kita lihat, income masyarakat belum naik signifikan. Jadi wajar kalau belum ada lonjakan besar pada penyaluran kredit, khususnya di sektor properti,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (3/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5%–5,4% juga dinilai belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi kredit properti secara agresif. Di sisi lain, tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi turut menahan minat masyarakat dalam mengambil KPR.
Meski demikian, ia menilai kinerja kredit properti tidak sepenuhnya lemah. Beberapa bank masih mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 10% pada periode yang sama.
Untuk tahun ini, Myrdal memproyeksikan kredit properti masih memiliki ruang tumbuh di kisaran 8% secara tahunan. Proyeksi ini sejalan dengan pertumbuhan kredit domestik yang diperkirakan mendekati double digit.
“Dengan kondisi saat ini, kredit properti masih bisa tumbuh sekitar 8%, meskipun tetap ada tantangan dari sisi global,” jelasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) KPR dinilai masih terjaga di kisaran 3,1%. Namun, perbankan tetap perlu menjaga kewaspadaan dengan memperkuat manajemen risiko.
Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip kehati-hatian, termasuk proses seleksi kredit (screening) yang ketat serta penguatan aktivitas penagihan (collection) terhadap debitur yang mengalami keterlambatan pembayaran. “Bank harus tetap selektif dan disiplin dalam monitoring portofolio, termasuk intensif dalam melakukan collection untuk menjaga kualitas aset,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk mendorong pertumbuhan KPR ke depan, perbankan dinilai perlu memperkuat sinergi dengan berbagai pihak. Termasuk mengikuti program pemerintah di sektor perumahan seperti program 3 juta rumah dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Selain itu, pemanfaatan insentif pemerintah seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik pembelian properti. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong minat masyarakat, khususnya bagi pembeli rumah pertama.