JAKARTA - Melalui pengelolaan fiskal yang disiplin dan hati-hati, pemerintah memastikan APBN Kuat dan Ekonomi Terjaga guna menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
Ketahanan anggaran negara menjadi tumpuan utama dalam menggerakkan berbagai sektor produktif yang terdampak dinamika geopolitik.
Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa kinerja APBN hingga saat ini masih menunjukkan tren positif yang didukung oleh penerimaan pajak yang signifikan.
"Kita akan terus menggunakan APBN sebagai shock absorber untuk melindungi masyarakat dan menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional," ujarnya sebagaimana dilansir dari kemenkeu.go.id, Senin (27/4/2026).
Pemerintah secara konsisten melakukan pengawasan terhadap efektivitas belanja di tingkat kementerian maupun lembaga daerah.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan dampak nyata bagi penurunan angka kemiskinan.
Menteri Keuangan berpendapat bahwa kesehatan fiskal merupakan modal awal yang paling berharga untuk menarik investasi masuk ke dalam negeri.
"Keberhasilan kita dalam menjaga defisit di bawah 3 persen adalah bukti bahwa pengelolaan keuangan negara dilakukan dengan sangat kredibel," jelasnya mengutip dari kemenkeu.go.id.
Realisasi subsidi energi tetap menjadi fokus perhatian agar daya beli masyarakat di tingkat bawah tidak tergerus oleh kenaikan harga komoditas.
Optimalisasi sumber pendapatan non-pajak juga mulai digarap secara serius melalui pemanfaatan aset negara yang selama ini kurang produktif.
Ketangguhan sistem keuangan domestik juga didukung oleh cadangan devisa yang berada pada posisi yang sangat memadai.
Sinergi antara otoritas moneter dan fiskal terus dipererat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan penguatan dolar AS.