JAKARTA – Penerapan skema MBG 4 hari seminggu diprediksi mampu menghemat APBN hingga Rp50 triliun per tahun sekaligus menjaga keberlanjutan program jangka panjang.
Wacana penyesuaian jadwal pemberian makan bergizi ini menjadi perbincangan hangat di lingkungan pengambil kebijakan fiskal saat ini.
Langkah tersebut dinilai sebagai jalan tengah untuk tetap menjalankan program unggulan nasional di tengah keterbatasan ruang belanja negara yang ketat.
"Dengan menyesuaikan jadwal menjadi 4 hari seminggu, potensi penghematan APBN mencapai Rp50 triliun setiap tahunnya," ujar Dadan Hindayana, sebagaimana dilansir dari cnbcindonesia.com, Selasa (28/4/2026).
Optimasi distribusi dan frekuensi dianggap tidak akan menurunkan dampak signifikan bagi status gizi anak-anak yang menjadi target utama.
Dadan Hindayana berpendapat bahwa fleksibilitas waktu pelaksanaan di lapangan memberikan kesempatan bagi penyedia lokal untuk mengatur ketersediaan bahan baku secara lebih matang.
Beberapa daerah percontohan mulai memetakan dampak sosial dari perubahan jadwal ini terhadap ekosistem ekonomi mikro di sekitar sekolah.
"Fokus utama kami tetap pada kualitas asupan nutrisi yang diberikan, namun efisiensi anggaran sebesar Rp50 triliun tidak bisa diabaikan," kata Dadan Hindayana, mengutip dari cnbcindonesia.com, Selasa (28/4/2026).
Skema baru ini juga berpotensi mengurangi beban operasional logistik yang selama ini menjadi komponen biaya cukup tinggi di wilayah terpencil.
Integrasi data penerima manfaat yang lebih akurat menjadi kunci agar dana yang dialokasikan benar-benar memberikan manfaat optimal.
"Pemerintah terus menghitung angka terbaik agar anggaran Rp50 triliun tersebut bisa digunakan untuk penguatan sektor lain tanpa menghentikan MBG," tutur Dadan Hindayana, lewat cnbcindonesia.com, Selasa (28/4/2026).
Dukungan dari berbagai kementerian lembaga sangat diperlukan untuk memastikan pengawasan di level teknis berjalan sesuai standar kesehatan nasional.
Keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang tetap menjadi prioritas agar program ini tidak menjadi beban yang memberatkan generasi mendatang.