Proyeksi BI: Penjualan Eceran Tumbuh Positif pada Agustus 2026

Jumat, 11 September 2026 | 19:36:31 WIB
Bank Indonesia. ( sumber : net )

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengestimasikan performa penjualan eceran senantiasa tumbuh positif pada Agustus 2026.

Situasi tersebut tampak dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 yang diestimasi menanjak 0,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengutarakan bahwa ekspansi penjualan eceran itu utamanya disokong oleh kelompok suku cadang serta aksesori.

Di samping itu, kelompok makanan, minuman, beserta tembakau turut menyokong pertumbuhan penjualan eceran pada Agustus 2026.

"Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 yang secara tahunan diprakirakan tumbuh sebesar 0,5 persen (yoy)," kata Ramdan dalam keterangan resmi, Kamis (10/9).

Kendati mendaki secara tahunan, penjualan eceran per Agustus 2026 secara bulanan diestimasikan mengalami kontraksi tipis 0,1 persen (month to month/mtm).

Penyusutan itu utamanya diakibatkan oleh penurunan penjualan pada kelompok barang lain-lainnya.

"Secara bulanan, penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan terkontraksi sebesar 0,1 persen (mtm)," ujarnya.

Meski demikian, sejumlah kelompok tetap membukukan pertumbuhan penjualan secara bulanan.

Kenaikan tersebut bersumber dari kelompok peralatan informasi beserta komunikasi, bahan bakar kendaraan bermotor, serta suku cadang beserta aksesori.

Sementara itu, performa penjualan eceran pada Juli 2026 tercatat bertambah 1,1 persen secara tahunan.

Hasil tersebut meningkat apabila disandingkan dengan Juni 2026 yang mendapati kontraksi 3 persen (yoy).

Ramdan mengemukakan ekspansi penjualan eceran pada Juli utamanya digerakkan oleh peningkatan pertumbuhan tahunan pada kelompok makanan, minuman, serta tembakau dan kelompok barang lainnya.

Akan tetapi, secara bulanan penjualan eceran Juli masih mencatatkan kontraksi 0,1 persen.

"Secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2026 tercatat terkontraksi sebesar 0,1 persen (mtm) dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah," jelasnya.

Selanjutnya, bank sentral menaksir tekanan inflasi pada Oktober 2026 serta Januari 2027 bakal merosot.

Hal tersebut tampak dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 senilai 146,5 serta Januari 2027 senilai 166,0.

Kedua nilai tersebut lebih kecil bila dikomparasikan dengan masa sebelumnya, berturut-turut sebesar 155,2 bagi Oktober 2026 dan 168,1 bagi Januari 2027.

Ramdan mengutarakan dinamika tersebut memperlihatkan adanya penurunan ekspektasi tekanan harga ke depan.

Terkini