Sucor: Valuasi Bank Murah, Komoditas dan AI jadi Peluang Baru Investor

Senin, 31 Agustus 2026 | 14:45:00 WIB

FINANSIALFOKUS.COM — Investor tidak perlu buru-buru meninggalkan saham perbankan. Menurut Bernadus, kelompok bank besar saat ini tengah diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (PE ratio) rata-rata di bawah 10 kali. Angka ini tergolong murah jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan laba ke depan.

Daya tarik lain datang dari imbal hasil dividen yang ditawarkan. Beberapa emiten bank disebut mampu memberikan yield di atas 10 persen. Kombinasi harga murah dan dividen besar menjadikan sektor ini tetap layak menjadi andalan utama portofolio.

Harga Minyak Bisa Dongkrak Saham Komoditas

Bernadus juga menyoroti peluang di sektor komoditas. Kenaikan harga minyak mentah global disebut menjadi pemicu yang bakal mendongkrak harga komoditas lain, seperti batu bara dan tembaga. Dampaknya, emiten yang bergerak di sektor ini berpotensi mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan dalam waktu dekat.

Katalis ini penting dicermati, terutama bagi investor yang mencari diversifikasi di luar saham perbankan.

Gelombang AI Diprediksi Menular ke RI

Untuk jangka panjang, sektor kecerdasan buatan (AI) dianggap sebagai ladang cuan masa depan. Bernadus mengamati saham-saham AI di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang telah mencatatkan pertumbuhan fantastis. Fenomena serupa diperkirakan akan merambat ke pasar keuangan Indonesia.

Perusahaan yang terkait dengan infrastruktur data, komputasi, atau pengembangan teknologi AI bisa menjadi pilihan investasi yang revolusioner.

Kebijakan The Fed dan BI Jadi Penentu Arah Pasar

Arah pasar keuangan domestik tetap bergantung pada kebijakan bank sentral. Keputusan suku bunga The Fed akan sangat ditentukan oleh data inflasi Amerika Serikat. Jika laju inflasi terus melandai, The Fed disebut berpotensi menahan laju kenaikan suku bunga.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga punya pertimbangan sendiri. Potensi penurunan BI Rate akan bergantung pada aliran dana asing, stabilitas nilai tukar Rupiah, serta arah kebijakan The Fed. Ketiga faktor ini akan menjadi penentu iklim investasi di Tanah Air hingga akhir tahun.

Dengan kombinasi valuasi yang menarik dan katalis global yang ada, investor ritel disarankan untuk mulai memetakan ulang strategi alokasi asetnya.

Terkini