FINANSIALFOKUS.COM — Laporan PwC Indonesia Infrastructure Outlook 2025–2050 yang dirilis Senin (31/8/2026) menempatkan Indonesia di posisi penting dalam proyeksi investasi infrastruktur global yang mencapai US$151,1 triliun pada 2050. Urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, transformasi digital, serta meningkatnya kebutuhan layanan dasar menjadi pendorong utama.
Transportasi, Listrik, dan Air: Motor Utama Pertumbuhan
Sektor transportasi tetap menjadi ladang investasi terbesar. Proyeksi belanja tahunan di sektor ini hampir tiga kali lipat, dari US$50,2 miliar pada 2024 menjadi US$148 miliar pada 2050. Pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, dan jaringan kereta api mengalir seiring urbanisasi dan meningkatnya arus perdagangan antarpulau.
Sektor ketenagalistrikan mencatat kenaikan dari US$5,7 miliar menjadi US$16,6 miliar per tahun pada periode yang sama. Investasi mengarah ke energi terbarukan, modernisasi jaringan listrik, serta infrastruktur transmisi dan penyimpanan energi. Industrialisasi, kendaraan listrik, dan pusat data menjadi penopang utama permintaan.
Untuk sektor air, proyeksi investasi naik dari US$5,6 miliar menjadi US$17,2 miliar per tahun. Fokusnya pada perluasan akses air perpipaan dan pengurangan kehilangan air, sejalan dengan target Indonesia mencapai akses universal air aman pada 2045.
Digital dan Infrastruktur Sosial: Peluang Tumbuh Lebih Cepat
Infrastruktur digital memang nilainya lebih kecil, tapi tumbuh stabil, dari US$3,2 miliar menjadi US$5 miliar per tahun. Kebutuhan cloud computing, aplikasi AI, e-commerce, fintech, dan layanan publik digital mendorong investasi jaringan lebih dari dua kali lipat, dari US$2 miliar menjadi US$4,1 miliar.
Peluang terbuka di jaringan fibre-optic, kabel bawah laut, menara telekomunikasi, hingga infrastruktur konektivitas generasi berikutnya. Sementara itu, belanja infrastruktur kesehatan dan pendidikan diproyeksikan naik dari US$5,5 miliar menjadi US$15,2 miliar per tahun, memperkuat agenda pengembangan sumber daya manusia jangka panjang.
Mengapa PwC Mendorong Peran Swasta Lebih Besar
Laporan ini tidak berhenti pada angka. PwC menekankan perlunya mobilisasi investasi swasta, kolaborasi publik-swasta yang lebih erat, dan skema pembiayaan inovatif untuk menangkap peluang yang ada. Tanpa keterlibatan swasta, gap pendanaan infrastruktur akan sulit ditutup.
"Indonesia tengah memasuki fase baru pembangunan infrastruktur. Jika pertumbuhan ekonomi melampaui proyeksi dasar, kebutuhan investasi tahunan bahkan dapat mencapai sekitar US$320 miliar pada 2050," ujar Agung Wiryawan, PwC Indonesia Infrastructure Leader, di Jakarta.
Angka US$320 miliar itu menjadi skenario atas yang bisa diraih bila ekonomi tumbuh lebih cepat dari perkiraan. Ruang bagi pemodal swasta dan badan usaha milik negara pun semakin lebar, terutama di sektor yang selama ini didominasi anggaran pemerintah.