Industri Komponen Minta BYD dan Vinfast Perkuat Rantai Pasok Lokal

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:12:00 WIB

FINANSIALFOKUS.COM — PT BYD Indonesia dijadwalkan meresmikan pabriknya di Subang Smartpolitan Industrial Park, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Kamis (3/9/2026). Undangan yang beredar menyebutkan Presiden Prabowo Subianto turut diundang dalam acara tersebut. Kabar dari Vietnam menyebutkan produsen kendaraan listrik Vinfast akan menyusul dalam waktu dekat.

Di tengah gelombang investasi itu, industri komponen dalam negeri menuntut kepastian keterlibatan mereka dalam rantai pasok produksi. Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmad Basuki mengatakan pemerintah telah membuka jalan melalui kebijakan TKDN yang dinaikkan bertahap untuk kendaraan listrik hingga 80 persen.

Apa yang Diminta Industri Komponen?

Rachmad menegaskan kenaikan TKDN berperan krusial memastikan investasi produsen kendaraan listrik tidak berhenti pada perakitan. "Dengan TKDN 80 persen pastinya akan menyerap komponen dalam negeri, meskipun fokusnya lebih ke baterai," ujarnya kepada Kompas, Minggu (30/8/2026).

Ia menyebut industri komponen nasional telah berdaya saing untuk kendaraan konvensional dan siap memasok komponen umum kendaraan listrik. Untuk komponen utama seperti baterai, motor listrik, dan power control unit (PCU), kapasitas industri nasional masih dalam tahap penjajakan karena teknologi yang relatif baru.

Skala produksi menjadi faktor lain yang menentukan daya saing. "Kalau daya saing (kendaraan listrik) sebenarnya sangat tergantung dari beberapa faktor, salah satunya jumlah volume yang mencukupi," kata Rachmad.

Bagaimana Peluang Kemitraan dengan BYD dan Vinfast?

GIAMM telah difasilitasi pemerintah melalui business matching dengan BYD sejak beberapa waktu lalu. Namun, komunikasi serupa dengan Vinfast belum terjalin. Rachmad meyakini peluang kerja sama B2B akan terbuka seiring penerapan target TKDN bertahap oleh pemerintah.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Saleh Husin mendorong perubahan arah insentif otomotif. Menurutnya, insentif yang selama ini menyasar penjualan kendaraan perlu dialihkan untuk penguatan pasok dan industri komponen.

"Insentif itu lebih ke depan harus didorong untuk supply chain-nya, untuk industri-industri komponen sehingga industri komponennya tumbuh dengan sendirinya. Industri otomotifnya menjadi lebih kuat untuk punya daya saing," jelas Saleh.

Rachmad menambahkan dukungan insentif bagi pengembangan kapasitas produksi komponen sangat penting karena 70 persen nilai kendaraan berasal dari part dan komponen. Langkah pemerintah selanjutnya dalam merealisasikan target TKDN 80 persen akan menentukan sejauh mana industri nasional mampu terintegrasi dengan produksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Terkini