Rupiah Menguat Ikuti Tren Positif Mayoritas Mata Uang Asia

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:07:04 WIB
Dolar AS Terpuruk. ( sumber : net )

JAKARTA - Rupiah sukses menanjak terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini, mengekor pergerakan mayoritas mata uang Asia yang memperoleh sokongan dari pelemahan dolar.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,31% pada level Rp17.685/US$ ketika perdagangan hari Jumat (21/8/2026).

Penguatan tersebut menjadi kenaikan rupiah selama tiga sesi perdagangan secara berturut-turut.

Posisi Rp17.685/US$ sekaligus menjadi titik penutupan paling tangguh dalam kurun hampir tiga bulan terakhir atau terhitung sejak 22 Mei 2026.

Secara mingguan, rupiah membukukan apresiasi sebesar 0,76%.

Mata uang Garuda bertransformasi menjadi salah satu dari sembilan mata uang Asia yang berhasil menguat terhadap dolar AS sepanjang sepekan ini.

Penguatan rupiah digerakkan oleh sentimen domestik usai Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada patokan 5,75% di dalam Rapat Dewan Gubernur rentang waktu 18-19 Agustus 2026.

BI turut mempertahankan suku bunga Deposit Facility senilai 4,75% serta Lending Facility sebesar 6,50%.

Keputusan tersebut difokuskan guna memelihara stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.

Dari 10 mata uang Asia, sebanyak sembilan berhasil menguat terhadap dolar AS sepanjang pekan ini.

Hanya peso Filipina yang bergerak berlawanan arah serta harus berakhir di teritori merah.

Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan lonjakan 2,17% ke posisi KRW 1.385,8/US$.

Kenaikan won muncul ketika pasar mencermati arah kebijakan Bank of Korea (BOK).

Pada bulan Juli lalu, bank sentral Korea Selatan menaikkan suku bunga untuk kali pertama dalam kurun waktu sekitar 3,5 tahun.

Deputi Gubernur Senior BOK Kwon Min-soo mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi Korea Selatan membaik jauh lebih kuat daripada proyeksi.

Pada waktu bersamaan, inflasi berada di atas target serta ancaman stabilitas keuangan masih menjadi sorotan.

Kondisi tersebut menjaga peluang kebijakan moneter tetap ketat menjelang agenda pertemuan BOK berikutnya pada 27 Agustus 2026.

Won juga memperoleh sokongan dari sinkronisasi otoritas Korea Selatan serta Jepang.

Para pejabat dari kedua negara tersebut berjumpa di Tokyo pada hari Jumat dan berkomitmen menjaga jalur komunikasi terkait dinamika pasar valuta asing.

Pertemuan tersebut bergulir beberapa pekan usai kedua negara mengambil langkah bersama guna menopang mata uang masing-masing.

Di bawah won, baht Thailand menguat 1,30% sepanjang pekan ke posisi THB32,67/US$.

Ringgit Malaysia menyusul lewat kenaikan 1,20% dan diikuti dolar Singapura yang terapresiasi 0,75%.

Dolar Taiwan pun menguat 0,57% ke TWD 31,825/US$, disusul yuan China yang naik 0,30% ke CNY 6,721/US$.

Sementara itu, yen Jepang menguat 0,23% ke posisi JPY 158,93/US$.

Dong Vietnam mencatatkan apresiasi paling terbatas sebesar 0,13% ke posisi VND26.114/US$.

Di sisi lain, peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mengalami pelemahan.

Peso terkoreksi 0,33% sepanjang pekan ke level PHP 61,650/US$.

Penguatan mayoritas mata uang Asia terjadi tatkala indeks dolar AS (DXY) merosot 0,87% sepanjang pekan ke posisi 98,800.

Tekanan terhadap dolar timbul seiring eskalasi kecemasan atas kondisi fiskal AS usai utang pemerintah Negeri Paman Sam menembus angka US$40 triliun untuk kali pertama.

Jumlah tersebut setara dengan Rp707.400 triliun (berdasarkan asumsi kurs Rp17.685/US$).

Besarnya defisit anggaran serta kebutuhan penerbitan surat utang memicu aksi pelepasan obligasi pemerintah AS.

Tingkat imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun sempat melesat ke kisaran 5,34%, menjadi yang tertinggi sejak 2007.

Departemen Keuangan AS lantas memperluas program pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang guna meredakan tekanan di pasar surat utang.

Nilai pembelian obligasi tenor 10-30 tahun dinaikkan setidaknya dua kali lipat, dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar dalam tiap operasi.

Peningkatan tersebut dijadwalkan berlaku untuk eksekusi pada 9 September sampai 4 November 2026.

Pengumuman itu sempat meredam imbal hasil obligasi AS berjangka panjang.

Kendati demikian, para pelaku pasar turut mencemaskan upaya menahan kenaikan yield justru mengalihkan tekanan ke arah dolar.

"Upaya Bessent menekan imbal hasil AS tidak banyak berdampak pada imbal hasil, tetapi justru melemahkan dolar," kata Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex Marc Chandler, dikutip dari Sumbernya.

Pelemahan dolar menyuplai ruang bagi mata uang Asia untuk menguat lantaran tekanan terhadap aset negara berkembang ikut mereda.

Kendati demikian, pasar masih mengawasi arah kebijakan The Federal Reserve.

Pelaku pasar menaksir peluang kenaikan suku bunga AS pada bulan September berada di kisaran 40%, sementara potensi kenaikan sampai Desember menyentuh 72%.

Fokus investor selanjutnya akan tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pekan depan guna mencari sinyal mengenai arah suku bunga AS di tengah tekanan inflasi serta turbulensi pasar obligasi.

Tags

Terkini