Emas Bergerak Datar, Investor Pantau Suku Bunga Amerika

Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:31 WIB
Ilustrasi emas. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Harga logam kuning bergerak cukup stabil pada hari Kamis (20/8/2026) setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan pesat.

Pelaku pasar tengah memperhatikan proyeksi suku bunga riil jangka panjang yang cenderung lebih rendah akibat kekhawatiran inflasi yang dipicu naiknya harga minyak.

Mengutip dari Sumbernya, Jumat (21/8/2026), harga emas di pasar spot terkoreksi tipis 0,1% ke level US$ 4.516,19 per ons.

Sebelumnya, harga komoditas tersebut sempat menyentuh angka US$ 4.450,08 per ons setelah sempat berada di titik tertinggi sejak 2 Juni saat awal perdagangan.

Perubahan posisi itu muncul usai emas terbang lebih dari 4% pada Rabu.

Di saat bersamaan, mata uang dolar AS serta imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) merosot drastis pasca Departemen Keuangan AS merilis agenda untuk memperbanyak pembelian kembali obligasi jangka panjang.

Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS berakhir menguat 0,6% menjadi US$ 4.571,40 per ons.

Analis pasar American Gold Exchange dari Sumbernya menyatakan bahwa pola emas di hari Kamis menunjukkan adanya aktivitas ambil untung setelah terjadi lonjakan kuat di perdagangan sebelumnya.

“Harga emas berada di bawah tekanan aksi ambil untung rutin setelah kenaikan kuat pada sesi sebelumnya,” kata dari Sumbernya.

Menurut dari Sumbernya, catatan rapat bank sentral AS (The Fed) yang bernada hawkish ikut menekan harga emas.

Kecemasan akan inflasi kembali membayangi setelah harga minyak naik, yang pada akhirnya membatasi pergerakan logam mulia tersebut.

Meski begitu, emas kembali mendapat angin segar setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah kemungkinan akan memperbesar volume pembelian kembali obligasi pemerintah.

Bahkan, besaran nilai pembelian tersebut berpeluang melampaui US$ 4 miliar pada tiap penerbitan.

Analis independen dari Sumbernya berpendapat bahwa prospek penurunan suku bunga riil dalam jangka panjang masih menjadi penopang harga emas.

“Harga emas didukung oleh prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah,” ujar dari Sumbernya.

Selama ini, emas dikenal sebagai aset yang banyak dicari investor untuk melindungi nilai dari inflasi.

Akan tetapi, penyesuaian suku bunga ke arah atas bisa menekan daya tarik emas karena menyebabkan kenaikan biaya peluang dalam menggenggam aset tanpa imbal hasil.

Ancaman bagi harga emas juga muncul dari kebijakan The Fed mendatang.

Hasil pertemuan bulan Juli memperlihatkan beberapa pejabat tetap waspada terhadap inflasi dan sebagian masih membuka opsi kenaikan suku bunga di masa depan.

Merujuk pada CME FedWatch Tool, pasar memprediksi peluang The Fed menahan suku bunga pada agenda September berada di level 67,4%.

Di bagian lain, harga minyak terus menanjak sampai ke level tertinggi selama tiga minggu terakhir.

Adanya jalan buntu dalam diskusi konflik Iran menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi di wilayah Timur Tengah.

Morgan Stanley memproyeksikan harga emas masih memiliki potensi untuk terus menguat.

Pihak bank tersebut memprediksi harga emas berpeluang menembus US$ 5.000 per ons pada 2027 atau mungkin lebih cepat jika The Fed tetap menjaga suku bunga saat ini.

“Dengan perkiraan para ekonom AS bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga saat ini, kami melihat peluang bagi harga emas untuk melampaui US$ 5.000 per ons pada tahun 2027, atau bahkan lebih awal,” kata analis Morgan Stanley dalam sebuah catatan.

Namun, Morgan Stanley memberikan peringatan bahwa perjalanan emas ke target level tersebut mungkin akan diwarnai fluktuasi yang cukup tinggi.

Sementara itu, tren logam mulia lainnya pun tidak seragam.

Harga perak spot menguat 1,9% menjadi US$ 68,16 per ons.

Platinum cenderung stabil di posisi US$ 1.824,72 per ons, sedangkan harga paladium melemah tipis 0,1% ke level US$ 1.330,74 per ons.

Tags

Terkini