JAKARTA – Pihak Lembaga Penyelidikan Ekonomi serta Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) secara tegas menggarisbawahi urgensi pemeliharaan prinsip independensi institusi Bank Indonesia (BI) menyusul dinamika pengunduran diri Perry Warjiyo dari tampuk kepemimpinan tertinggi Gubernur BI, merujuk pada publikasi laporan Investor Daily pada hari Selasa (28/7/2026).
Selaku Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEB UI, Jahen Fachrul Rezki memaparkan pandangannya bahwa kemandirian mutlak sebuah bank sentral memiliki signifikansi tingkat krusial guna membentengi perekonomian dari ancaman erosi kepercayaan pasar serta potensi krisis finansial, berkaca pada lembaran kelam sejarah krisis domestik tahun 1998 silam berikut pengalaman empiris sejumlah teritori negara di kawasan Amerika Latin.
Jahen lebih lanjut menguraikan bahwa momentum pergeseran kepemimpinan ini menjelma menjadi bentuk ujian nyata bagi stabilitas organisasi BI, di mana seluruh titik konsentrasi wajib diarahkan secara konsisten pada kepatuhan penuh terhadap mandat undang-undang agar tetap merdeka dari segala bentuk intervensi kekuasaan eksekutif pemerintah.
Also Read Airlangga Hartarto Sebut Presiden Prabowo Tentukan Calon Gubernur Bank Indonesia "Peranan bank sentral itu idealnya akan tetap selalu independen.
Jadi tidak bisa 'diatur'.
Bank Indonesia bisa diawasi, tetapi ketika harus mengikuti apa yang diinginkan pemerintah, di situ lah yang menjadi masalah," ujar Jahen, dari Sumbernya.
Advertisement Konten Promosi Turun 17 Kg dalam 27 Hari — Coba Malam Ini Wellburn Wanita Cirebon Ungkap Cara Raih Rp 24 Juta per Hari!
Sensor Imitrex Nx A Millionaire From Cirebon Explains How He Earns $2000 A Day Amir Trader Scroll To Continue with Content Berkaca dari catatan historis di pelbagai belahan dunia, kegagalan dalam merawat koridor kemandirian institusi bank sentral terbukti ampuh memicu gelombang eskalasi laju inflasi yang liar tanpa kendali.
"Kami banyak belajar di negara-negara Amerika Latin.
Ketika independensi bank sentral hilang, inflasinya gila-gilaan.
Indonesia juga pernah mengalami kondisi ketika bank sentral kami less independent," kata Jahen, dari Sumbernya.
Also Read BSI Proyeksikan Penyesuaian Pasar Pascapengunduran Diri Perry Warjiyo Di samping itu, ia turut menegaskan bahwa orientasi utama kerja BI semestinya senantiasa berfokus menjaga poros stabilitas harga serta nilai tukar rupiah, alih-alih terjebak memaksakan target ekspansi pertumbuhan ekonomi yang justru berisiko meruntuhkan kredibilitas kebijakan moneter.
"Kalau BI akhirnya mencoba mengurusi growth, itu kontraproduktif bagi perekonomian.
Sektor keuangan membutuhkan kepastian dan stabilitas," ujar Jahen, dari Sumbernya.
Kendati memegang prinsip otonomi yang independen, institusi BI dipandang masih memerlukan ruang sinkronisasi harmonis antara bauran instrumen kebijakannya dengan kerangka kebijakan fiskal nasional agar efektivitas dampak perbaikan ekonomi tercapai secara maksimal.
Also Read Tiga Lembaga Pemeringkat Soroti Dampak Pengunduran Diri Perry Warjiyo "Kalau kebijakan moneter dan fiskalnya tidak kompak, dampaknya bagi perekonomian tidak akan optimal," kata Jahen, dari Sumbernya.
Berkenaan dengan aspek mekanisme kontrol pengawasan, Jahen menjelaskan bahwa jajaran parlemen DPR maupun lembaga auditor pengawas tetap mengantongi hak legalitas untuk melakukan evaluasi, namun dengan catatan batasan tegas tidak mencakup ranah intervensi terhadap proses pembuatan keputusan moneter.
"Independensi itu bukan berarti tanpa evaluasi atau tanpa pengawasan.
Proses pengawasan bisa dilakukan oleh DPR maupun badan pengawas.
Tapi mengawasi bukan berarti mengintervensi.
Kalau data tidak menunjukkan suku bunga harus diturunkan, misalnya, pemerintah ataupun DPR tidak bisa memaksa BI mengambil kebijakan yang justru kontraproduktif," pemapar Jahen, dari Sumbernya.
Also Read Perry Warjiyo Mundur dari Jabatan Gubernur Bank Indonesia Saat ini, dinamika di lantai bursa pasar finansial terpantau sedang mencermati tiga variabel krusial, yakni profil figur penantang pengganti Perry Warjiyo, arah haluan kebijakan nakhoda baru, serta transparansi mekanisme penjaringan seleksinya.
"Kalau satu dari tiga itu tidak dilakukan secara benar, saya yakin respons pasar akan sangat kurang positif," ujar Jahen, dari Sumbernya.
Ia pun melayangkan seruan mendesak kepada pihak otoritas BI dan pemerintah pusat agar segera merealisasikan kepastian informasi konkret ke ruang publik guna menjaga ketenangan serta tingkat kepercayaan para investor sepanjang fase transisi kepemimpinan berlangsung.
Also Read Lembaga Pemeringkat Respon Pengunduran Diri Gubernur BI Perry Warjiyo "Menghancurkannya cuma butuh satu-dua hari.
Tapi mengembalikan kepercayaan itu tidak mudah dan biaya ekonominya sangat mahal," kata Jahen, dari Sumbernya.