Bank DBS Beberkan Syarat Utama Calon Pengganti Pimpinan Bank Sentral

Kamis, 30 Juli 2026 | 12:10:03 WIB
DBS. ( sumber : net )

JAKARTA – Pakar ekonomi senior dari Bank DBS, Radhika Rao, berpandangan bahwa figur figur figur figur pengganti posisi Gubernur Bank Indonesia sepeninggal Perry Warjiyo wajib mempunyai kapasitas mumpuni sebagai manajer risiko guna mengantisipasi eskalasi ketidakpastian ekonomi dunia.

Disamping faktor tersebut, Radhika turut menekankan bahwa nakhoda baru bank sentral diwajibkan mengantongi latar belakang pengalaman yang matang, tingkat kredibilitas moral yang tinggi, serta ketegasan sikap independensi dalam merumuskan setiap produk kebijakan.

Hal tersebut dipandang krusial lantaran pelbagai tekanan maupun potensi krisis baik di dalam negeri maupun ranah internasional menuntut adanya sinergi kuat bersama pemerintah demi meramu keseimbangan instrumen kebijakan moneter dan fiskal dalam rangka mengamankan stabilitas perekonomian nasional.

Relevansi kebutuhan figur dengan kriteria tersebut sejatinya telah tercermin secara nyata melalui rekam jejak kepemimpinan Perry Warjiyo selama kurun waktu tujuh hingga delapan tahun masa baktinya, sebelum akhirnya memutuskan mundur pada hari Senin (27/7).

Baca Juga: IHSG melemah 5 hari, pasar menanti Fed Rate dan Gubernur BI Selama memimpin, Perry tercatat sukses mengawal perekonomian melewati pelbagai ujian krisis berat, mulai dari hantaman pandemi COVID-19, gelombang pengetatan suku bunga acuan The Fed pada tahun 2022, hingga dinamika ketegangan terbaru di wilayah Selat Hormuz.

“Masa jabatannya menghadapi banyak krisis.

Saya rasa, penggantinya harus benar-benar mengambil peran sebagai pengelola risiko,” tegasnya, saat ditemui di gelaran Media Gathering DBS, Rabu (29/7), dari Sumbernya.

Lebih lanjut, Radhika juga menggarisbawahi tiga parameter kualitas esensial yang mutlak wajib melekat pada diri seorang pimpinan otoritas moneter di manapun belahan bumi berada.

“Anda menginginkan sosok yang sangat berpengalaman.

Anda juga menginginkan orang yang memiliki tingkat kredibilitas tinggi, serta mempertahankan independensi dalam pembuatan kebijakan,” jelasnya, dari Sumbernya.

Pandangan terhadap Destry Damayanti Dalam momentum pertemuan yang serupa, Radhika turut mengakui bahwa langkah keputusan mundurnya Perry Warjiyo merupakan sebuah kejutan besar yang sama sekali luput dari kalkulasi banyak kalangan.

“Saya rasa tidak ada yang berpikir ke arah sana,” ujarnya, dari Sumbernya.

Kendati demikian, ia melayangkan apresiasi positif kepada figur Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti, yang sebelumnya telah lama mendedikasikan diri menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior di bank sentral.

“Ia sudah menjabat sejak 2019.

Ia pernah menjadi ekonom, ia juga pernah di pihak regulator.

Jadi, ia memiliki kombinasi yang tepat, dan andal dalam membuat kebijakan pusat,” kata Radhika, dari Sumbernya.

Sebelum meniti jalur karier profesional di lingkungan Bank Indonesia, Destry tercatat pernah menduduki posisi strategis sebagai Kepala Ekonom di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada rentang tahun 2011 sampai 2015.

Selanjutnya, Destry juga sempat memegang amanah sebagai Ketua Satuan Tugas Ekonomi di bawah naungan Kementerian BUMN pada periode 2014-2015, serta diangkat menjadi Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk masa penugasan 2015-2019.

“Itulah mengapa Anda lihat rupiah dan imbal hasil [obligasi] tidak terlalu tertekan,” ujar Radhika, dari Sumbernya.

Menyangkut aspek kesinambungan arah kebijakan strategis ke depan, Destry sendiri telah memberikan garansi bahwa pihak BI akan terus konsisten melanjutkan koridor kebijakan yang telah berjalan, dengan tetap menitikberatkan fokus pada penjagaan stabilitas nilai tukar rupiah.

Sejalan dengan komitmen tersebut, lepas dari siapapun figur yang nantinya memegang kendali kepemimpinan baru di BI, pihak DBS meyakini secara utuh bahwa garis haluan kebijakan moneter bank sentral tidak akan mengalami pergeseran mendasar.

Radhika bersama institusi Bank DBS hingga kini masih mempertahankan estimasi proyeksi bahwa Bank Indonesia berpeluang melakukan penyesuaian kenaikan suku bunga acuan sebanyak satu hingga dua kali lagi, sangat bergantung pada dinamika hasil keputusan rapat FOMC The Fed, hingga penghujung tahun 2026 mendatang.

Terkini