MANADO - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutgo) Robert Sianipar menyatakan bahwa institusi perbankan wajib memperkokoh ketahanan likuiditas di kala laju penyaluran kredit tengah ekspansif saat ini.
"Likuiditas perbankan harus terus diperkuat, karena loan deposit rasio (LDR) perbankan Sulut berada di atas angka 100," kata Robert, di Manado, Kamis.
Robert memaparkan bahwa rasio LDR pada sektor perbankan di Sulut menyentuh angka 162,48 persen sampai dengan kondisi April 2026, di mana persentase ini menyusut 1,59 persen bila dikomparasikan dengan posisi pada periode serupa di tahun sebelumnya yang bertengger di level 164,07 persen.
Ia memberikan penjelasan bahwa tingginya angka LDR tersebut mengindikasikan bahwa volume penyaluran dana pinjaman bernilai jauh lebih masif ketimbang kemampuan dalam menjaring dana simpanan dari warga.
"Ada dana dari luar yang masuk ke Sulut dan dijadikan sebagai pinjaman," katanya pula.
Oleh karena itu, ia kembali menegaskan bahwa kondisi likuiditas perbankan secara umum masih berada dalam koridor aman dan terjaga dengan baik walau indikator LDR perbankan Sulut tercatat tinggi.
Pihak perbankan juga diimbau olehnya untuk mengamankan ketahanan likuiditas dengan mencurahkan fokus pada perolehan Current Account Savings Account (CASA) atau instrumen dana murah.
Dengan demikian, rasio LDR yang tinggi dapat diartikan tidak memicu ancaman bahaya, asalkan bank bersangkutan mengantongi cadangan aset likuid yang cukup, memiliki jangkauan terhadap opsi pendanaan alternatif, serta mutu dari pembiayaan yang disalurkan berstatus sehat.
Sampai dengan periode April 2026, akumulasi penyaluran kredit pada sektor perbankan di Sulut menembus nominal Rp57,77 triliun atau terkerek naik sebesar 6,97 persen bila disandingkan dengan catatan pada masa yang sama di tahun lalu yang hanya menyentuh Rp54,01 triliun.
Robert menambahkan bahwa jika indikator tersebut dikomparasikan dengan performa pada bulan sebelumnya, maka didapati adanya peningkatan sebesar 1,01 persen dari posisi Rp57,19 triliun pada Maret 2026 bergeser ke angka Rp57,77 triliun pada April 2026.
Di sisi lain, ia juga menuturkan bahwa volume Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dijaring oleh industri perbankan Sulut menyentuh nominal Rp35,55 triliun atau mengalami kenaikan 8,01 persen ketimbang performa pada masa serupa di tahun lalu (2025) yang berada di level Rp32,91 triliun.
Ia menutup penjelasannya dengan memaparkan bahwa jika angka tersebut disandingkan terhadap posisi pada penghujung tahun 2025, maka didapati pertumbuhan sebesar 2,14 persen dari posisi awal senilai Rp34,81 triliun bergeser naik menuju Rp35,55 triliun.