Fed Pastikan Stabilitas Harga, Kenaikan Suku Bunga Mengintai

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:19:51 WIB
Ilustrasi Suku Bunga (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75%. Namun, sinyal kenaikan suku bunga pada akhir tahun semakin kuat seiring inflasi yang bertahan di atas target 2%. Keputusan diumumkan setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dua hari pada 18 Juni 2026 waktu Indonesia.

Sepanjang 2025, Fed menahan suku bunga hingga Agustus di level 4,25-4,50% sebelum memangkasnya bertahap hingga 3,50-3,75%. Sejak Januari hingga Juni 2026, suku bunga tetap ditahan. Dalam pernyataan resminya, Fed menegaskan aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid, sementara inflasi tetap di atas target.

"Aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju yang solid meskipun ketidakpastian masih tinggi, yang sebagian disebabkan oleh konflik di Timur Tengah. Pertumbuhan produktivitas dan investasi modal tetap kuat. Pertambahan lapangan kerja berjalan seiring dengan pertumbuhan angkatan kerja, sementara tingkat pengangguran relatif tidak banyak berubah. Inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan Komite, sebagian akibat gangguan pasokan yang mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor, termasuk energi." tulis Fed dalam pernyataan resminya.

Fed juga menegaskan kebijakan cadangan likuiditas tetap dipertahankan. Neraca obligasi senilai US$6,7 triliun belum akan dikurangi, meski sebelumnya sempat didukung Ketua baru Fed, Kevin Warsh. Menariknya, keputusan kali ini disetujui bulat, berbeda dengan rapat April yang memunculkan tiga pandangan berbeda.

Pernyataan terbaru Fed lebih singkat, hanya 130 kata dibanding 341 kata pada April. Forward guidance dihapus, menandai perubahan gaya kepemimpinan Warsh. Dalam konferensi pers, ia menegaskan target inflasi 2% tidak akan berubah.

"Komitmen untuk mencapai target itu kuat, bulat, dan tidak ambigu," ujar Warsh.

Inflasi konsumen AS Mei 2026 tercatat 4,2% yoy, sementara inflasi PCE April 3,8%. Warsh mengakui komunikasi Fed sebelumnya kurang efektif, sehingga dibentuk task force untuk meninjau strategi komunikasi dan operasional.

Warsh juga menolak memberi forward guidance. "Mengenai prospek kebijakan moneter, saya tidak bisa memberikan panduan tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Kabar baiknya, kami akan kembali bertemu dalam enam minggu," katanya.

Dalam dot plot terbaru, median proyeksi suku bunga akhir 2026 naik ke 3,8% dari 3,4% pada Maret. Sebanyak sembilan pejabat memperkirakan kenaikan, delapan menilai tetap, dan satu melihat peluang pemangkasan. Pemangkasan baru diperkirakan terjadi pada 2027–2028.

Proyeksi inflasi 2026 direvisi naik menjadi 3,6% untuk inflasi umum dan 3,3% untuk inflasi inti. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan 2,2%, sementara pengangguran turun ke 4,3%.

Lonjakan inflasi menimbulkan dilema baru. Inflasi Mei 2026 mencapai 4,2% yoy, tertinggi sejak 2023. Pasar tenaga kerja tetap tangguh dengan penambahan 172.000 lapangan kerja dan pengangguran stabil di 4,3%.

Ekspektasi pasar kini bergeser, peluang kenaikan suku bunga Oktober 2026 mencapai 60,7%, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya di Desember.

Terkini