Rupiah Anjlok ke Rp 17.668 Per Dollar AS BI Berpeluang Naikkan Rate

Selasa, 19 Mei 2026 | 12:09:35 WIB
Ilustrasi Rupiah Dolar (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pasar keuangan domestik kembali diguncang kekhawatiran baru menyusul merosotnya nilai tukar rupiah hingga melewati level Rp 17.668 per dolar AS. Kondisi ini memicu munculnya spekulasi bahwa Bank Indonesia akan mengambil langkah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5 persen guna meredam tekanan terhadap mata uang nasional.

Depresiasi tajam yang dialami mata uang Garuda menjadi indikasi kuat atas meningkatnya persepsi risiko para investor terhadap aset-aset di dalam negeri. Dampak dari situasi ini juga turut memberikan tekanan pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang terpantau masih sangat fluktuatif.

“Market cenderung merespons pergerakan rupiah yang cenderung terdepresiasi tajam hingga menembus kisaran Rp17.668-Rp17.681 per dolar AS. Hal ini menjadi salah satu rekor terendah yang memicu kekhawatiran atas meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar aset Indonesia,” ujarnya pada Selasa (19/5/2026).

Saat ini para pelaku pasar tengah mengantisipasi langkah intervensi nyata dari Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan bakal digelar pada 19-20 Mei 2026. Kebijakan menaikkan suku bunga acuan tersebut diharapkan bisa menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menahan kemerosotan indeks saham agar tidak semakin dalam.

“Melemahnya rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei 2026,” paparnya.

“Hal ini dilakukan demi mengintervensi pelemahan Rupiah, dan bila direspon positif bisa menahan kejatuhan indeks lebih dalam,” bebernya.

Melihat pada analisis teknikal, posisi IHSG sekarang ini berada pada area jenuh jual berdasarkan indikator Relative Strength Index dan telah menguji target wave 5/A. Pergerakan indeks diperkirakan berada pada rentang level support di area 6.387 dan 6.262, sementara untuk area resistance berada pada kisaran 6.715 dan 6.917.

Beban pasar terasa semakin berat akibat adanya aksi jual bersih oleh investor asing yang menembus angka Rp 460,34 miliar pada perdagangan Senin (18/5/2026). Jika dihitung secara year to date, jumlah total net foreign sell di pasar saham dalam negeri sudah mencapai Rp 50,63 triliun dengan performa IHSG yang terkoreksi merosot 23,68 persen sepanjang tahun berjalan.

Di samping faktor dari dalam negeri, laju pergerakan pasar juga dibayangi oleh konflik geopolitik global yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Sikap waspada dan antisipatif dari para investor ini pun ikut dipengaruhi oleh sentimen rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International dan FTSE.

“Pergerakan IHSG pada hari ini juga akan diwarnai oleh sikap antisipatif investor terhadap sentimen rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE,” katanya.

Meskipun kondisi pasar sedang mengalami volatilitas yang tinggi, para investor disarankan untuk tetap memperhatikan saham-saham dengan fundamental yang kuat serta memiliki valuasi yang masih murah. Beberapa emiten yang dianggap prospektif dan menarik untuk dicermati meliputi PT Astra International Tbk, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

Untuk saham ASII, disarankan melakukan aksi beli pada area entry Rp 5.825 sampai dengan Rp 6.125. Target harga dipasang secara berjenjang pada level Rp 6.150, Rp 6.275, dan Rp 6.600, dengan batas level support berada di area 5.825 dan 5.725.

Sementara itu, untuk emiten EMTK yang kini sudah memasuki area jenuh jual dinilai sudah layak untuk dikoleksi menggunakan strategi accumulative buy pada area Rp 600 sampai Rp 710. Target harga akhir ditetapkan pada level Rp 735, Rp 780, hingga target jangka panjang pada Rp 1.060, dengan support di area 600 dan 575.

Saham INDF pun memperlihatkan adanya potensi kelanjutan dari tren penguatan, sehingga muncul rekomendasi beli pada area entry Rp 6.600 hingga Rp 6.800. Proyeksi target penguatan untuk saham produsen komoditas pangan ini diperkirakan menuju level Rp 6.875, Rp 7.175, dan Rp 7.875, dengan batas aman support di area 6.600 dan 6.300.

Terkini