Kapal China Tabrak Kapal Pemerintah Filipina di Laut China Selatan, Manila Protes

Kapal China Tabrak Kapal Pemerintah Filipina di Laut China Selatan, Manila Protes

FINANSIALFOKUS.COM — Sebuah kapal China Coast Guard menabrak kapal pemerintah Filipina, BRP Datu Magat Salamat, di perairan lepas Provinsi Palawan. Insiden ini memperparah rangkaian bentrokan maritim antara kedua negara di kawasan sengketa Laut China Selatan. Tidak ada korban luka, namun kerusakan parah dilaporkan terjadi pada salah satu sisi kapal Filipina.

Juru bicara Philippine Coast Guard, Jay Tarriela, menyatakan kapal China tersebut awalnya memotong jalur kapal Filipina pada jarak sekitar 10 meter. Sekitar 10 menit berselang, manuver serupa diulang dan berujung pada tabrakan yang merusak lambung kapal.

Tarriela merilis rekaman video yang diklaim menunjukkan insiden tersebut. Kapal yang ditabrak merupakan milik Bureau of Fisheries and Aquatic Resources (BFAR) dan tengah dalam misi memasok bahan bakar untuk nelayan Filipina.

Kronologi Insiden di Perairan Palawan

Insiden terjadi saat kapal BFAR melintas di lepas pantai Palawan. Tarriela menyebut kapal China Coast Guard melakukan manuver berbahaya sebelum akhirnya menabrak.

Serpihan dilaporkan berserakan di dek kapal Filipina akibat benturan tersebut. Tidak ada awak yang mengalami luka dalam kejadian ini.

Bantahan China dan Klaim Sepihak

China menolak versi Manila dan menuding kapal Filipina sebagai penyebab tabrakan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, mengutip informasi dari penjaga pantai mereka, menyatakan kapal Filipina mengabaikan peringatan.

Menurut Beijing, kapal Filipina sengaja mengubah arah dan tiba-tiba mempercepat laju di depan haluan kapal China. China mengklaim tindakannya sah dalam menjaga kedaulatan wilayahnya.

Pola Bentrokan yang Berulang

Insiden tabrakan ini bukan yang pertama. Pada Juli lalu, Manila menuduh Beijing menembakkan water cannon ke kapal pemerintah di dekat Scarborough Shoal dan memukul anggota staf Angkatan Laut Filipina dengan tongkat kayu.

Sebulan sebelumnya, China melarang Menteri Pertahanan Nasional Filipina Gilberto Teodoro memasuki wilayahnya. Teodoro merespons dengan pernyataan bahwa ia akan terus melindungi Manila "di hadapan kejahatan yang mereka [China] lakukan di sini dan bahkan di laut kami".

Menteri Pertahanan China Dong Jun menyerukan negara lain menghentikan tindakan "provokatif" di perairan tersebut. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

Posisi Amerika Serikat dan Hukum Internasional

Amerika Serikat menyatakan keprihatinan atas aktivitas militer Beijing di kawasan. Washington juga mengkritik penetapan kawasan konservasi oleh China yang dinilai bertujuan memperkuat klaim teritorialnya.

Filipina, sekutu AS, terus menolak sikap asertif China di perairan yang dianggap bagian dari wilayahnya. Sebuah tribunal yang didukung PBB pada Juli menyatakan klaim kedaulatan China tidak memiliki dasar hukum.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari ASEAN atau pemerintah Indonesia terkait insiden terbaru ini. Jalur pelayaran di Laut China Selatan tetap menjadi perhatian karena dilintasi kapal-kapal dagang internasional, termasuk dari Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index