Tantangan dan Peluang Jurnalisme Era Digital di Lombok Barat

Tantangan dan Peluang Jurnalisme Era Digital di Lombok Barat
BI DIY Dorong Wartawan Adaptif di Tengah Transformasi Media. ( sumber : net )

LOMBOK BARAT - Era digital yang merombak kebiasaan konsumsi berita publik menuntut para pekerja pers untuk senantiasa menyesuaikan diri tanpa mengabaikan pilar fundamental jurnalisme.

Ketepatan data, nilai integritas, serta keberpihakan pada kebenaran dipandang senantiasa memegang posisi sebagai pilar utama di tengah derasnya terpaan informasi virtual.

Isu krusial tersebut mengemuka sebagai topik pembahasan penting dalam agenda Capacity Building Wartawan DIY yang mengusung tema “Peluang dan Tantangan Jurnalisme di Era Transformasi Media” bertempat di Hotel Aruna Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (9/9/2026).

Rangkaian acara yang dijadwalkan berjalan hingga 11 September 2026 ini diikuti oleh belasan kuli tinta dari berbagai instansi media yang berbasis di wilayah DIY.

Di samping berfungsi sebagai sarana peningkatan kompetensi kewartawanan, agenda ini juga memberikan kesempatan emas bagi para jurnalis guna menyaksikan secara langsung geliat sektor ekonomi serta pariwisata NTB sekaligus memperluas sudut pandang peliputan isu ekonomi regional.

Kepala KPw Bank Indonesia NTB, Hario Kartiko Pamungkas, menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak KPw BI DIY yang menetapkan NTB sebagai arena kegiatan peningkatan kapasitas sekaligus memperkenalkan potensi desa wisata setempat.

“Terima kasih menjadikan NTB sebagai tempat capacity building wartawan DIY. Kami menyadari bahwa kami harus saling belajar antara satu wilayah dengan wilayah lainnya dan mengambil pelajaran dari masing-masing daerah,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan tersebut, Rabu.

Lebih lanjut, Hario menuturkan bahwa sinergi antara DIY dan NTB ke depan berpeluang untuk terus dieratkan lewat jalur pertukaran wawasan serta kunjungan kerja antarkota.

Beliau memaparkan bahwa NTB menyimpan beragam potensi sektor perekonomian yang harus konsisten didorong pertumbuhannya.

Memasuki kuartal II 2026, tingkat pertumbuhan ekonomi NTB tercatat berada di angka 7,41%.

Capaian positif tersebut ditopang terutama oleh tiga sektor lapangan usaha utama, yakni pertanian, sektor pertambangan, serta bidang perdagangan.

Pada sektor agraris, NTB memegang peranan kunci sebagai salah satu lumbung pasokan pangan nasional dengan komoditas unggulan berupa tanaman padi dan jagung.

Sementara itu, sektor pertambangan, khususnya komoditas tembaga di daerah Sumbawa, menjelma sebagai salah satu motor penggerak vital roda perekonomian NTB.

Menatap masa depan, menurut pandangan Hario, perintisan industri pengolahan hasil tambang bernilai tambah mutlak diperlukan agar kekayaan sumber daya alam mampu memberikan kontribusi kesejahteraan yang lebih optimal bagi daerah.

“Ke depan akan dikembangkan industri pengolahan yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi,” katanya.

Bergeser pada sektor perdagangan serta pariwisata, denyut nadi perekonomian NTB turut menerima dorongan positif dari lonjakan mobilitas publik ketika musim liburan panjang serta kunjungan para pelancong.

Provinsi NTB dikaruniai ragam destinasi serta fasilitas pendukung pariwisata kelas atas, mulai dari kawasan Senggigi, Bandara Internasional Lombok, hingga kawasan ekonomi khusus Mandalika.

Pengembangan sektor pariwisata ini diharapkan tidak hanya berpusat pada titik-titik tertentu saja, melainkan mampu merata dan mendatangkan multi-plier effect ekonomi hingga ke pelosok daerah di NTB.

Hario menambahkan bahwa penguatan konektivitas antarwilayah sangat esensial, termasuk lewat penggalangan kerja sama regional antara Bali, NTB, serta NTT.

Bentuk kolaborasi strategis ini tidak sekadar berfokus pada sektor pariwisata semata, melainkan mencakup pula upaya stabilisasi harga inflasi serta penguatan jalinan ekonomi lintas wilayah.

“Bagaimana Bali dan NTB lebih terhubung kuat. Untuk pengendalian inflasi, hubungan antardaerah harus lebih kuat. Kalau satu daerah membutuhkan dukungan, maka bisa dibantu daerah sekitarnya,” jelasnya.

Melalui pemaparan tersebut, beliau menilai seluruh potensi besar ini wajib dikomunikasikan secara efektif kepada khalayak luas.

Pemberitaan media massa yang bersifat mencerahkan dan konstruktif diyakini mampu menumbuhkan keyakinan para pelaku pasar terhadap komitmen daerah.

“Potensi-potensi di NTB dan kondisi ini perlu diwartakan dengan baik, sehingga para pelaku ekonomi percaya terhadap keberpihakan pemerintah pada pertumbuhan ekonomi. Ekonomi NTB baik sehingga investor juga tertarik berinvestasi di sini,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Darmadi Sudibyo, mengemukakan bahwa gelombang digitalisasi menghadirkan dimensi tantangan sekaligus peluang bagi institusi media.

Menurut pandangannya, kemajuan teknologi informasi memfasilitasi pers untuk melahirkan produk jurnalistik yang sifatnya kian interaktif, adaptif, serta cakap menjangkau pembaca secara spesifik.

Meski demikian, perubahan ekosistem ini sama sekali tidak boleh melunturkan pilar dasar dunia jurnalisme.

“Integritas, akurasi, dan keberpihakan terhadap kebenaran (merupakan fondasi utama kami),” ujarnya yang disampaikan secara daring.

Sri menyebutkan bahwa program capacity building ini dihadirkan sebagai wadah bagi para jurnalis untuk terus menimba ilmu dan mempertajam keahlian teknis dalam merespons dinamika industri media.

Ia menaruh harapan besar agar para pewarta asal DIY sanggup konsisten menggali inovasi baru di ranah jurnalistik sehingga menghasilkan karya yang berbobot sekaligus berdampak nyata bagi masyarakat.

“Kita akan terus menggali dan mengeksplorasi hal-hal apa yang harus terus diperdalam. Harapan kami semua teman-teman wartawan DIY ini menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas dan berdampak pada masyarakat,” katanya.

Sementara itu, jurnalis senior Tempo yang juga pengampu kanal Bocor Alus Politik, Stefanus Pramono, dalam sesinya menggarisbawahi adanya turbulensi masif di industri media akibat penetrasi teknologi digital dan pergeseran pola pembaca.

Ia menyebutkan bahwa kondisi dapur redaksi media saat ini tengah mendapati tekanan finansial yang cukup berat.

Sebagai ilustrasi, ia mengutip data dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang mencatat sebanyak 549 orang jurnalis kehilangan mata pencaharian sepanjang tahun 2025.

Kendati demikian, ekspansi platform digital secara paralel turut membuka peluang ruang kreasi baru bagi insan media untuk menelurkan format pemberitaan alternatif.

Perubahan perilaku audiens pun menjelma sebagai batu sandungan tersendiri.

Stefanus membeberkan bahwa setiap harinya terdapat kisaran 6,5 miliar konten berseliweran, sementara masyarakat kian terbiasa melahap informasi berformat ringkas serta visual.

“Artikel 1.000 kata kalah dengan video 30 detik,” ujarnya.

Ia menambahkan fakta bahwa sekitar 64% warga Indonesia mengakses berita harian melalui platform jejaring sosial.

Kondisi demikian mengakibatkan aspek kualitas sebuah tulisan artikel tidak lagi otomatis menjadi penentu utama tingkat sebaran pembaca sebuah berita.

“Artikel bagus kalah dengan algoritma,” katanya.

Bertolak dari realitas tersebut, Stefanus menegaskan bahwa pelaku media wajib merevolusi pola pikir mereka.

Media tidak lagi cukup sekadar memproduksi berita, melainkan wajib memahami strategi perluasan jangkauan, merawat kepercayaan publik, dan membangun model bisnis yang lestari.

Ia merumuskannya ke dalam tiga poin kunci, yakni change and cuan, build the trust, serta use your asset.

“Media perlu change and cuan, mengubah mindset, memperluas reach, build the trust. Use your asset,” katanya.

Menurut penjelasannya, transformasi strategi ini sama sekali tidak menyaratkan pengorbanan kode etik jurnalistik.

Justru di tengah kepungan informasi sampah dan hegemoni algoritma mesin pencari, modal kepercayaan publik menjadi harta karun berharga yang wajib dijaga konsistensinya oleh media.

“Kalau tidak mencoba, kami sendiri yang akan rugi,” ujarnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index