JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah diestimasikan berada pada fase konsolidasi datar disertai potensi penguatan terbatas terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dalam agenda transaksi perdagangan hari ini (10/9/2026).
Beraneka ragam sentimen pasar terpantau bakal mewarnai pergerakan kurs rupiah secara keseluruhan.
Sebagai catatan pengingat, posisi penutupan rupiah sebelumnya menorehkan penguatan sebesar 0,69% atau bertambah 121,00 poin menuju level Rp 17.511 per dolar AS pada hari Rabu (9/9/2026).
Di sisi lain, mengacu pada patokan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) terbitan Bank Indonesia, mata uang rupiah tercatat menguat 0,37% ke kisaran Rp 17.552 per dolar AS.
Pihak Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menyampaikan bahwa untuk perdagangan hari ini (10/9/2026), rupiah akan dibayangi oleh benturan sentimen yang saling berlawanan arah.
Menurut keterangannya, laju rupiah dihadapkan pada tarikan antara tren pelemahan nilai dolar AS di satu sisi dengan kenaikan harga komoditas minyak serta imbal hasil obligasi pemerintah AS (yield US Treasury) di sisi yang lain.
Dari ranah global, posisi indeks dolar (DXY) yang bertengger dekat area terendah dua pekan terakhir dinilai masih menyisakan ruang bagi apresiasi rupiah.
Kendati demikian, lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah dikhawatirkan memicu lonjakan inflasi AS sekaligus mempertahankan sikap agresif (hawkish) bank sentral AS.
"Pasar besok juga akan menunggu PPI AS dan data jobless claims," ujar Brahmantya kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).
Potensi kenaikan pada data inflasi tingkat produsen di AS berisiko mendongkrak kembali proyeksi kenaikan suku bunga The Fed, penguatan indeks dolar, serta kenaikan yield obligasi AS.
Sementara itu, dari dalam negeri, dinamika sentimen pasar cenderung memperlihatkan sinyal positif seiring lonjakan posisi cadangan devisa nasional yang menyentuh kisaran US$146,5 miliar.
Rangkaian kebijakan stabilisasi moneter dari Bank Indonesia serta rilis data kinerja penjualan ritel domestik turut berfungsi sebagai perisai penahan hantaman tekanan eksternal.
Menimbang berbagai faktor tersebut, laju rupiah diprediksikan bergerak mendatar (sideways) dengan tendensi penguatan yang terbatas sepanjang sesi perdagangan hari ini (10/9/2026).
"Saya memperkirakan USD/IDR bergerak di kisaran Rp 17.600–Rp 17.800 per dolar AS," kata Brahmantya.
Adapun rentang level Rp 17.500 hingga Rp 17.600 dipetakan sebagai area batas bawah (support), sementara kisaran Rp 17.700 sampai Rp 17.800 bertindak sebagai zona batas atas (resistance) rupiah pada perdagangan hari ini (10/9/2026).