JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin bergerak menanjak 2 poin ataupun 0,01 persen menjadi Rp17.640 per dolar AS disandingkan penutupan sebelumnya di takaran Rp17.642 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengemukakan penguatan tipis rupiah dipicu kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026, kendati masih tertahan sekian banyak sentimen eksternal.
“Rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS setelah data menunjukkan kenaikan cadangan devisa Indonesia pada bulan Agustus,” kata Lukman dari Sumbernya.
Bank Indonesia (BI) mencatatkan posisi cadangan devisa Indonesia pada penghujung Agustus 2026 sebesar 146,5 miliar dolar AS ataupun sekitar Rp2.584,26 triliun, menanjak 1,2 miliar dolar AS ataupun sekitar Rp21,17 triliun disandingkan posisi penghujung Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS ataupun sekitar Rp2.563,09 triliun.
Peningkatan itu terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa sekalian penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pelunasan utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI.
Namun, Lukman mengemukakan penguatan rupiah masih terbatas lantaran investor mempertimbangkan eskalasi geopolitik di Timur Tengah sekalian menantikan sekian banyak data ekonomi penting dari ranah domestik dan luar negeri.
“Untuk jangka pendek, walau momentum penguatan rupiah masih kuat, volatilitas eksternal diperkirakan masih akan mendominasi dan berpotensi menahan penguatan lanjutan rupiah,” ujar Lukman dari Sumbernya.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova pun menilai tekanan eksternal terhadap rupiah masih tinggi, utamanya akibat kenaikan banderol minyak dunia dan potensi arus modal keluar di tengah volatilitas pasar keuangan akibat eskalasi geopolitik.
“Dari global, tekanan terhadap rupiah masih tinggi akibat harga minyak yang naik di atas 95 dolar AS,” ucap Rully dari Sumbernya.
Banderol minyak Brent pada perdagangan Senin bertengger di atas 95 dolar AS per barel ataupun sekitar Rp1,68 juta per barel seirama meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Dalam jangka pendek, Rully menilai rupiah masih menghadapi risiko arus modal keluar akibat volatilitas pasar keuangan seiring eskalasi konflik geopolitik.
Sementara itu, pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengemukakan data tenaga kerja AS yang jauh lebih tangguh dari perkiraan turut menjadikan pasar mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS ataupun Federal Reserve (The Fed).
“Kuatnya penambahan lapangan kerja memungkinkan The Fed untuk lebih fokus pada aspek inflasi dari mandatnya,” kata Ibrahim dari Sumbernya.
Berdasarkan pandangan Ibrahim, pelaku pasar berikutnya mencermati data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS yang sanggup mempengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed.