Transformasi Digital dan Perilaku Keuangan Generasi Z

Transformasi Digital dan Perilaku Keuangan Generasi Z
Wajah Baru Rupiah di Tangan Gen Z. ( sumber : net )

JAKARTA - Sore menjelang senja, langkah kaki Yuningsih (21) terhenti di sebuah kedai kopi di kawasan Jakarta Timur.

Ia memesan minuman, meraih ponselnya, lantas mengarahkan kamera ke suatu kode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di meja kasir.

Beberapa detik berselang, transaksi tuntas.

Tiada uang kertas yang berpindah tangan.

Tiada pula bunyi koin jatuh ke meja.

Yang tertinggal hanyalah pemberitahuan pada layar ponsel bahwa saldo rekening telah berkurang.

Bagi kalangan yang terlahir serta bertumbuh di tengah kemajuan teknologi digital, apa yang dilakukan Yuningsih bukanlah suatu hal yang luar biasa.

Melunasi makanan, membeli pakaian, memesan sarana transportasi hingga berbelanja keperluan harian sanggup dikerjakan cukup dengan satu genggaman lewat layar ponsel.

Kendati demikian, terselip satu hal yang senantiasa ajek di balik segenap kepraktisan tersebut, yakni nilai yang berpindah tetap dikalkulasikan dalam rupiah.

“Sekarang saya hampir jarang membawa uang tunai,” kata Yuningsih bercerita dari Sumbernya.

Kebiasaan bersahaja itu merefleksikan pergeseran masif dalam cara kaum muda berinteraksi bersama uang.

Rupiah kian jarang disentuh secara fisik, melainkan kian intens hadir dalam keseharian dengan wujud digital.

Dahulu, mengenali uang bermakna mengenali lembaran Rp1.000, Rp5.000, Rp10.000 hingga Rp100.000.

Anak-anak mempelajari cara menghitung uang dari pecahan yang tergenggam di tangan.

Kini, pengalaman tersebut sedikit bergeser.

Generasi Z sanggup menuntaskan transaksi tanpa sedetik pun mengeluarkan selembar uang pun.

Bagi Yuningsih, uang dapat berwujud saldo rekening, saldo dompet digital, atau deretan angka yang muncul seusai memindai QRIS.

Transformasi tersebut memunculkan satu implikasi yang menarik.

Rupiah kian gampang dimanfaatkan, tetapi bentuk fisiknya kian jarang tampak.

“Kalau ada QRIS, tinggal scan, lebih praktis,” imbuh perempuan asal Depok, Jawa Barat tersebut.

Gejala itu bukanlah sekadar pergeseran kebiasaan di kalangan anak muda.

Data Bank Indonesia memaparkan, transaksi pembayaran digital di Indonesia terus meroket seiring kian masifnya publik beralih menuju kanal pembayaran digital.

Pada Juli 2026, volume transaksi pembayaran digital menembus angka 5,50 miliar transaksi, ataupun menanjak 28,69% secara tahunan (yoy).

Lonjakan tersebut tampak pada berbagai kanal.

Volume transaksi via internet menanjak 9,39% (yoy), sementara transaksi via aplikasi mobile mendaki 24,25% (yoy).

Kenaikan paling mencolok terjadi pada transaksi QRIS yang menggapai 82,42% (yoy), seiring bertambahnya kuantitas pengguna serta merchant.

Perubahan itu turut terpampang pada infrastruktur pembayaran ritel.

Pada Juli 2026, volume transaksi via BI-FAST menggapai 546 juta transaksi, menanjak 31,62% (yoy), dengan nominal transaksi menembus Rp1.355 triliun.

Sementara itu, transaksi berbobot besar via BI-RTGS terdata sejumlah 0,99 juta transaksi, menanjak 3,12% (yoy).

Nominal transaksinya menggapai Rp20.097 triliun, ataupun menanjak 1,54% (yoy).

Pertumbuhan transaksi digital itu nyatanya tidak cuma berlangsung di pusat-pusat perekonomian nasional, melainkan turut terasa di pelbagai wilayah.

Di Kalimantan Barat, sebagai contoh, perkembangan ekosistem pembayaran digital memperlihatkan peningkatan yang terbilang berarti.

Hal ini seirama dengan kian luasnya pemanfaatan QRIS oleh masyarakat serta pelaku usaha.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, mengemukakan perkembangan ekosistem QRIS di Kalimantan Barat memperlihatkan tren positif.

Sampai Juni 2026, jumlah merchant QRIS menggapai 552.673 ataupun menanjak 28,94 persen secara tahunan.

Dari total tersebut, sebanyak 74,17 persen di antaranya merupakan usaha mikro.

Dari sudut pandang transaksi, nominal transaksi QRIS di Kalimantan Barat sampai Juni 2026 menggapai Rp6,5 triliun ataupun menanjak 112,04 persen secara tahunan.

Sementara volume transaksi menggapai 62,9 juta transaksi ataupun menanjak 131,97 persen, dengan total pengguna menggapai 875,4 ribu jiwa.

Data itu mengindikasikan bahwa digitalisasi pembayaran kian merangsek aktivitas ekonomi masyarakat pada level daerah.

QRIS tidak lagi sekadar menjadi instrumen pembayaran di pusat perbelanjaan atau bisnis modern, melainkan kian banyak dimanfaatkan oleh usaha mikro dan publik dalam transaksi harian..

"Kami berharap QRIS dapat menjadi gerakan bersama, bukan hanya inisiatif Bank Indonesia, tetapi juga kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat," kata Doni dari Sumbernya.

Lonjakan angka-angka di atas kian memperlihatkan bahwa perluasan pemanfaatan QRIS tidak semata bergantung pada kemajuan teknologi, melainkan pula pada pergeseran kebiasaan publik tatkala mengeksekusi transaksi.

Seiring kian luasnya ekosistem pembayaran digital, QRIS perlahan menjelma sebagai bagian dari aktivitas ekonomi harian, utamanya di kalangan generasi muda.

Ketika QRIS Menjadi Bagian dari Kehidupan.

Pergeseran paling gampang terlihat di pusat-pusat aktivitas publik, utamanya kalangan anak muda.

Kedai kopi, kantin kampus, restoran, gerai pakaian hingga usaha rumahan kini kian akrab bersama pembayaran digital.

“Hampir seluruh transaksi (saya) menggunakan QRIS,” timpal Yuningsih kembali.

Pengalaman Yuningsih tersebut senada dengan hasil jajak pendapat IDN Research Institute yang memperlihatkan bahwa QRIS kian melekat bersama kebiasaan transaksi generasi muda.

Jajak pendapat yang melibatkan 1.500 responden, berisikan 750 Gen Z dan 750 Milenial dari sejumlah kota besar di Indonesia, membeberkan beberapa pemicu utama yang menyokong kedua kelompok usia itu memanfaatkan QRIS dalam kesehariannya.

Kemudahan bertindak sebagai pemicu utama.

Sebanyak 63 persen responden menyatakan bahwa mereka memanfaatkan QRIS lantaran metode pembayaran ini gampang dioperasikan.

Pengguna cukup memindai kode QR yang tersedia pada merchant atau pedagang, tanpa perlu mempersiapkan uang tunai ataupun menghitung uang kembalian.

Kesederhanaan inilah yang menjadikan QRIS sebagai opsi praktis guna pelbagai keperluan transaksi.

Di samping kemudahan, pergeseran dari pembayaran tunai menuju non-tunai pun menjadi unsur krusial.

Sebanyak 57 persen responden mengaku memilih QRIS lantaran berkeinginan meninggalkan kebiasaan memanfaatkan uang tunai.

Kehadiran pelbagai dompet digital serta aplikasi perbankan yang telah mendukung QRIS turut menjadikan transaksi non-tunai kian gampang dieksekusi dalam pelbagai kondisi.

Unsur berikutnya yakni promo dan potongan harga.

Sebanyak 37 persen responden menyebut promo eksklusif serta diskon sebagai salah satu pemicu mereka memanfaatkan QRIS.

Pelbagai bentuk penawaran, bermula dari cashback, potongan harga pada merchant, hingga promo khusus bagi pengguna baru, turut menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Sementara itu, ketersediaan QRIS di pelbagai titik menjadi pemicu bagi 23 persen responden.

Pemanfaatannya kini tidak terbatas pada pusat perbelanjaan atau restoran besar.

QRIS pun kian gampang dijumpai pada warung, pedagang kecil, usaha rumahan, hingga supermarket.

Luasnya penerapan tersebut menjadikan publik sanggup bertransaksi dengan cara yang serupa di pelbagai tempat.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan QRIS bukanlah sekadar mengekor kemajuan teknologi pembayaran.

Bagi Gen Z dan Milenial, menurut Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran, Arianto Muditomo, QRIS telah menjelma sebagai bagian dari kebiasaan harian yang menyuguhkan kemudahan, fleksibilitas, sekalian pelbagai keunggulan dalam bertransaksi.

“QRIS sangat penting karena sesuai dengan karakter Gen Z yang mengutamakan kecepatan, kemudahan, dan pengalaman serba digital. Bagi mereka, ponsel mulai menggantikan dompet fisik,” kata Arianto dari Sumbernya.

Menurut pandangannya, pergeseran tersebut terlihat dari kian terbiasanya Gen Z mengeksekusi transaksi berbobot kecil secara lebih intens dan spontan.

Di sisi lain, transaksi tersebut turut menyisgalkan catatan secara digital.

“QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga membentuk kebiasaan baru: transaksi bernilai kecil dilakukan lebih sering, spontan, dan tercatat secara digital,” ujar Arianto dari Sumbernya.

Arianto menilai tingginya lonjakan transaksi QRIS mengindikasikan bahwa pembayaran digital telah bergeser dari sekadar tren menjadi keperluan dalam aktivitas harian.

QRIS kini kian diterima untuk pelbagai keperluan transaksi, bermula dari transportasi, makanan, belanja daring hingga transaksi bersama pedagang kaki lima.

Kendati demikian, menurut Arianto, kesinambungan lonjakan pembayaran digital tetap memerlukan sokongan dari ekosistem yang sehat.

Beberapa unsur yang perlu dicermati di antaranya keandalan jejaring, keamanan transaksi, perlindungan konsumen, serta struktur biaya yang sehat bagi industri pembayaran.

Dorong UMKM Beradaptasi.

Di tengah kian kuatnya kebiasaan transaksi non-tunai, UMKM bertindak sebagai salah satu sektor yang mempunyai peluang besar guna turut meraup manfaat dari pergeseran tersebut.

Menurut Arianto kian terbiasanya konsumen memanfaatkan pembayaran non-tunai sanggup memperluas pasar bagi pedagang yang tadinya menyandarkan diri pada transaksi tunai.

Arianto mengemukakan, QRIS memfasilitasi pelaku UMKM melayani konsumen yang kian jarang membawa uang tunai.

Di samping itu, transaksi digital sanggup membantu pencatatan keuangan usaha sekalian meredam sejumlah risiko dalam transaksi tunai.

“QRIS juga membantu pencatatan transaksi, mengurangi risiko uang palsu dan kehilangan uang tunai, serta dapat membentuk rekam jejak usaha untuk akses pembiayaan,” jelas Arianto dari Sumbernya.

Namun, transformasi digital itu tetap wajib disusul dengan penguatan kapasitas pelaku UMKM.

Menurut Arianto, literasi digital menjadi salah satu unsur krusial agar pelaku usaha sanggup memanfaatkan sistem pembayaran digital secara optimal.

Di samping literasi, kepastian penyelesaian dana, perlindungan dari penipuan, serta biaya layanan yang proporsional pun perlu menjadi perhatian.

“Jangan sampai peningkatan kenyamanan konsumen justru memindahkan beban biaya dan risiko kepada pedagang kecil,” tegas Arianto dari Sumbernya.

Hal ini menegaskan bahwa digitalisasi pembayaran bukanlah semata ihwal menghadirkan transaksi yang lebih kilat dan praktis.

Di balik pergeseran cara publik bertransaksi, terselip keperluan guna memastikan ekosistem pembayaran tetap aman, inklusif, serta sanggup menyuguhkan manfaat bagi segenap pihak.

Pada titik inilah, pergeseran perilaku pembayaran pun membawa kami kembali pada satu pertanyaan fundamental: bagaimana memaknai kecintaan terhadap rupiah di tengah kehidupan yang kian digital?

Pada ujungnya, mencintai rupiah bukanlah bermakna wajib senantiasa memanfaatkan uang tunai.

Berbangga terhadap rupiah pun bukanlah bermakna menutup diri dari teknologi dan kemajuan ekonomi global.

Sebaliknya.

Di tengah dunia yang kian digital, cinta terhadap rupiah sanggup dimanifestasikan dengan memahami serta memanfaatkannya secara bijaksana dalam pelbagai wujud transaksi.

Lantaran, tatkala cara publik bertransaksi bergeser, rupiah tetap menjadi satu hal yang seragam: instrumen pembayaran yang menggerakkan aktivitas ekonomi sekalian menjelma sebagai bagian dari kehidupan harian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index