Rupiah Terkoreksi ke Rp 17.646 per Dolar AS, Cadangan Devisa Menguat

Rupiah Terkoreksi ke Rp 17.646 per Dolar AS, Cadangan Devisa Menguat
Rupiah Melemah ke Rp 17.646 per Dolar AS. ( sumber : net )

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awalan perdagangan Senin bergerak merosot 4 poin ataupun 0,02 persen menjadi Rp 17.646 per dolar AS disandingkan penutupan sebelumnya di takaran Rp 17.642 per dolar AS.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengemukakan pelemahan rupiah pada perdagangan pagi ini salah satunya dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Dalam perdagangan pagi ini rupiah melemah, salah satu penyebabnya adalah tensi geopolitik di Timur Tengah,” kata Ibrahim dari Sumbernya.

Berdasarkan pandangannya, meningkatnya ketegangan itu turut mendongkrak indeks dolar AS dan banderol minyak mentah, sehingga menyumbang tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ibrahim mengemukakan banderol minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 91,92 dolar AS per barel ataupun sekitar Rp 1,62 juta per barel, sedangkan minyak mentah Brent sekitar 96,55 dolar AS per barel ataupun setara Rp 1,70 juta per barel.

Konfirmasi kenaikan banderol minyak, sambung dia, sanggup mendongkrak keperluan valuta asing guna memenuhi keperluan impor minyak.

“Permintaan untuk impor minyak dengan harga yang lebih mahal membuat pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup banyak. Sehingga wajar kalau dalam transaksi pagi ini rupiah mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim dari Sumbernya.

Dari ranah domestik, Ibrahim mengemukakan aktivitas Gunung Anak Krakatau pun menjelma sebagai sorotan lantaran, menurut dia, turut mempengaruhi kegiatan ekonomi akibat gangguan terhadap penerbangan.

“Walaupun tidak terlalu besar, tapi ini berindikasi terhadap ekonomi di Indonesia. Kita lihat bahwa penerbangan dari tanggal 6 sampai tanggal 7 masih ditutup,” tutur Ibrahim dari Sumbernya.

Dia pun mengemukakan pelaku pasar menantikan sekian banyak data ekonomi domestik, di antaranya perkembangan cadangan devisa, penjualan eceran, serta indeks keyakinan konsumen.

Sementara itu, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengemukakan data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih tangguh dari perkiraan mendongkrak probabilitas kenaikan suku bunga kebijakan The Fed pada perjumpaan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) September 2026.

Nonfarm payrolls AS menanjak sebesar 162 ribu pada Agustus 2026, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 55 ribu dan angka bulan sebelumnya yang sudah direvisi menjadi 21 ribu.

Tingkat pengangguran tertahan sebesar 4,1 persen.

“Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar yang tercermin dalam pricing terhadap kenaikan suku bunga kebijakan menjadi sekitar 60 persen, dari sekitar 50 persen, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” ujar Josua dari Sumbernya.

Lebih lanjut, ia memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin bergerak pada kisaran Rp 17.600-Rp 17.725 per dolar AS.

Cadangan Devisa Indonesia Pada Agustus 2026 Naik.

Di tengah merosotnya Rupiah, Bank Indonesia (BI) mencatatkan posisi cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026 menggapai 146,5 miliar dolar AS.

Takaran tersebut menanjak disandingkan posisi pada Juli 2026 yang terdata sebesar 145,3 miliar dolar AS.

“Perkembangan posisi cadangan devisa Agustus 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dari Sumbernya.

Ia menguraikan, posisi cadangan devisa pada penghujung Agustus 2026 setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor ataupun 5,3 bulan impor dan pelunasan utang luar negeri pemerintah.

Serta bertengger di atas patokan kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” terang Denny dari Sumbernya.

Ke depan, sambung Denny, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap apik disokong oleh posisi cadangan devisa yang memadai sekalian arus masuk modal asing, seirama bersama persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang senantiasa memikat.

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Denny dari Sumbernya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index