IHSG Ditutup Melonjak 1,09% ke 6.667,89, BBCA dan ASII Jadi Penopang Utama

IHSG Ditutup Melonjak 1,09% ke 6.667,89, BBCA dan ASII Jadi Penopang Utama

FINANSIALFOKUS.COM — Aktivitas transaksi tercatat ramai dengan nilai mencapai Rp 18,64 triliun. Sebanyak 40,79 miliar saham berpindah tangan dalam 2,5 juta kali transaksi sepanjang hari.

Saham Big Caps Jadi Motor Penggerak Reli IHSG

Penguatan indeks kali ini tidak digerakkan oleh spekulasi saham lapis kedua, melainkan akumulasi beli pada saham-saham unggulan alias big caps. Data menunjukkan hampir seluruh sektor menghijau, dengan kinerja terbaik dicetak sektor properti, barang baku, dan konsumen primer. Hanya sektor konsumen non-primer dan kesehatan yang memerah.

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) — kontributor utama kapitalisasi pasar
  • PT Astra International Tbk (ASII) — pendorong utama sektor otomotif
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) — penopang indeks perbankan
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) — penggerak sektor tambang
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) — saham perbankan berkapitalisasi besar

Global Masih Jadi Beban, dari Konflik AS-Iran hingga Yield Obligasi

Di tengah reli domestik, pelaku pasar tetap mencermati risiko eksternal yang belum mereda. Eskalasi konflik AS-Iran memicu kekhawatiran terganggunya rantai pasok energi global, yang berpotensi mendorong harga minyak dan inflasi lebih tinggi.

Tekanan juga datang dari pasar obligasi global. Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,818%. Situasi lebih ekstrem terjadi di Jepang, di mana yield surat utang pemerintah tenor 10 tahun menembus level 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir. Sementara itu, yield obligasi Jerman dan Inggris masing-masing berada di level tertinggi sejak 2011 dan 2008.

Dari Negeri Paman Sam, data tenaga kerja swasta Agustus hanya mencatat penambahan 38.000 pekerjaan, di bawah estimasi pasar yang sebesar 47.000. Data ini menjadi sinyal perlambatan yang akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Sentimen Domestik yang Menahan Tekanan Eksternal

Dari dalam negeri, pernyataan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan komitmen menjaga stabilitas ekonomi pada periode 2026-2031 menjadi angin segar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Fokus BI pada stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan berkelanjutan dinilai pasar sebagai respons yang tepat atas volatilitas global saat ini.

Pelaku pasar juga mencermati sejumlah perkembangan kebijakan domestik, seperti penyesuaian harga avtur Pertamina yang berlaku mulai September serta pencabutan izin usaha satu bank perbankan syariah oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kedua isu ini menjadi perhatian khusus bagi investor di sektor energi dan perbankan.

Dengan ditutupnya perdagangan di zona hijau, pelaku pasar akan mengamati apakah momentum penguatan ini mampu berlanjut pada sesi berikutnya mengingat tekanan yield obligasi global dan potensi gejolak harga energi masih membayangi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index