JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki kesempatan untuk meneruskan tren kenaikannya pada sesi perdagangan Selasa (14/7) setelah sukses melewati area psikologis 6.000 di sesi penutupan perdagangan Senin (13/7).
Arah kenaikan ini ditopang oleh hadirnya sentimen positif pasca lembaga S&P Global Ratings menetapkan untuk tetap mempertahankan peringkat kredit bagi Indonesia.
Pihak analis dari Phintraco Sekuritas berpandangan bahwa ketetapan tersebut menjadi stimulus pendorong bagi bursa saham dalam negeri.
Hal itu dikarenakan para pelaku pasar sebelumnya sempat mengkhawatirkan potensi terjadinya pemangkasan peringkat ataupun perubahan prospek di tengah beragam hambatan makroekonomi global.
"Sentimen positif berasal dari S&P Global Ratings yang menegaskan peringkat kredit Indonesia pada BBB dengan outlook tetap stabil. Hal ini direspons positif oleh pasar yang sebelumnya khawatir jika peringkat atau prospek Indonesia diturunkan," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Senin (13/7).
Ditinjau secara teknikal, Phintraco Sekuritas melihat indikasi pergerakan dari IHSG memperlihatkan sinyal yang kian solid.
Indeks tidak sekadar mampu melampaui level psikologis 6.000, melainkan turut mengakhiri perdagangan di atas garis rata-rata pergerakan jangka pendek dan menengah atau moving average.
"Kondisi tersebut mengindikasikan momentum penguatan masih terjaga sehingga IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan untuk menguji area resistance pada kisaran 6.080 hingga 6.120 dalam perdagangan selanjutnya," tulis tim.
Laju IHSG berakhir melonjak sebesar 1,92% menuju posisi 6.037,84 pada hari Senin (13/7/2026) pasca S&P Global Ratings menetapkan kembali peringkat kredit jangka panjang Indonesia pada posisi BBB serta peringkat jangka pendek di level A-2, dengan outlook jangka panjang yang tidak berubah atau stabil.
Apabila dilihat berdasarkan sektornya, kelompok saham basic materials menjadi penggerak terdepan dalam mendorong kenaikan dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,96%.
Di sisi lain, kelompok saham kesehatan menjadi satu-satunya lini yang mengalami tekanan dengan mencatatkan penurunan sebesar 0,26%.
Kendati begitu, pergerakan positif yang melanda pasar saham rupanya belum berimbas penuh pada performa mata uang rupiah.
Sampai pada sesi penutupan pasar spot, nilai mata uang rupiah malah mengalami pelemahan sebesar 0,24% menuju level Rp18.109 per dolar AS.
Walaupun proyeksi jangka pendek bagi IHSG terbilang bagus, para investor bakal tetap mengawasi dinamika sentimen internasional serta fluktuasi kurs rupiah yang saat ini masih mengalami tekanan karena faktor tersebut berpeluang menentukan arah pergerakan pasar saham lokal.