Rupiah Sempat Tembus Rp18.000 per Dolar AS di Semester I-2026, Ancaman Masih Berlanjut

Rupiah Sempat Tembus Rp18.000 per Dolar AS di Semester I-2026, Ancaman Masih Berlanjut
Ilustrasi Nilai Tukar Mata Uang (Sumber foto: NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang semester pertama 2026 terus mengalami tekanan. Puncaknya, kurs rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada 4 Juni 2026, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.

Setelah itu, rupiah sempat melemah lebih dalam ke Rp18.171 per dolar AS pada 8 Juni 2026, sebelum turun tipis ke Rp18.141 per dolar AS sehari kemudian. Hingga akhir Juni, rupiah bertahan di kisaran atas Rp17.800 per dolar AS, tepatnya Rp17.899 pada 30 Juni 2026, lalu melemah ke Rp17.961 pada 1 Juli 2026.

Sepanjang semester I-2026, rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di dunia. Depresiasi rupiah mencapai 7,23 persen secara point to point, menempatkannya di peringkat ke-8 dari 10 mata uang terlemah terhadap dolar AS.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI Rate ke 5,75 persen pada Juni 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut langkah ini sebagai upaya memperkuat stabilisasi nilai tukar di tengah ketidakpastian global. BI juga meningkatkan intervensi valas melalui transaksi spot, NDF, dan DNDF, serta memperkuat likuiditas dengan instrumen repo tenor 3–12 bulan.

Selain itu, BI menurunkan threshold pembelian tunai valas tanpa underlying menjadi 10.000 US dolar per bulan dan memperketat aturan pelaporan lalu lintas devisa dengan penyesuaian threshold dokumen pendukung transfer dana keluar negeri.

Meski berbagai strategi ditempuh, ancaman pelemahan rupiah masih berlanjut. Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit 1,61 miliar US dolar pada Mei 2026, setelah 72 bulan berturut-turut surplus. Ekonom BCA menilai ekspor menghadapi hambatan dari kebijakan The Fed yang hawkish, program biodiesel B50, pembatasan ekspor komoditas, serta faktor cuaca.

Kepala Riset Ekonomi Makro PermataBank Faisal Rachman menambahkan, tingginya impor di tengah lesunya ekspor berisiko memperlebar current account deficit. “Pelebaran CAD tanpa adanya capital inflow akan mengurangi cadangan devisa dan membuat rupiah melemah. Dampaknya harga barang input impor jadi lebih mahal,” ujarnya.

Meski demikian, tingginya impor juga mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Pemerintah menargetkan laju ekonomi tembus 6 persen pada 2026, dengan impor bahan baku naik 25,17 persen, barang konsumsi 21,99 persen, dan barang modal 12,70 persen. Struktur impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dengan porsi 71,32 persen dari total impor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index