JAKARTA - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memastikan kondisi fiskal Indonesia hingga pertengahan 2026 masih terjaga dengan baik. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat sebesar 0,7 persen hingga Mei 2026 dan diperkirakan tetap di bawah 3 persen sampai akhir tahun.
Pendapatan negara hingga Mei mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6 persen dari target Rp3.153,6 triliun, naik 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pajak memberikan kontribusi terbesar dengan Rp958,2 triliun, termasuk penerimaan pajak murni Rp834,4 triliun yang tumbuh 22,1 persen. Bea dan cukai menyumbang Rp123,8 triliun, naik tipis 0,7 persen, sementara pendapatan negara bukan pajak mencapai Rp226,4 triliun, tumbuh 19,9 persen.
Dari sisi belanja, realisasi hingga Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun atau 35,5 persen dari pagu Rp3.842,7 triliun, naik 34,4 persen. Pengeluaran pemerintah pusat melonjak 52,6 persen menjadi Rp1.059,3 triliun. Belanja kementerian dan lembaga mencapai Rp517,7 triliun, naik 58,9 persen, sedangkan belanja non-kementerian Rp541,6 triliun, naik 47 persen. Dana transfer ke daerah justru turun 4,9 persen menjadi Rp306,1 triliun.
Dengan capaian tersebut, posisi keseimbangan primer mencatatkan surplus Rp58,6 triliun, menandakan keuangan negara masih mumpuni dalam mengatur pemasukan, pengeluaran, dan pembiayaan utang.