BALI - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai kepemilikan saham di Provinsi Bali mencapai Rp7,95 triliun pada triwulan I 2026. Realisasi tersebut tumbuh signifikan 48,40 persen dibandingkan periode sama 2025 sebesar Rp5,35 triliun.
Dengan capaian itu, investor saham di Bali masih menunjukkan kepercayaan positif meski perekonomian global terdampak krisis geopolitik dunia.
Jumlah investor saham per Maret 2026 berdasarkan identifikasi investor tunggal (SID) mencapai 392.841 SID. Angka ini tumbuh hampir 30 persen dibandingkan dengan Maret 2025 yang berjumlah 302 ribu SID.
Regulator mencatat seluruh jenis investor meningkat, mencakup saham, reksa dana, dan surat berharga negara (SBN). Investor reksa dana mendominasi dengan 369.562 investor, diikuti oleh saham 199.394 investor, dan SBN 34.085 investor.
"Investor saham tumbuh paling tinggi 31,97 persen," imbuhnya.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi sektor pasar modal tercatat 17,78 persen dan inklusi 1,34 persen. Secara umum, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen dan inklusi keuangan 80,51 persen, meningkat dibandingkan dengan 2024 yang masing-masing sebesar 65,43 persen dan 75,02 persen.
Untuk menggenjot pasar modal di Bali, regulator terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan sebagai salah satu sasaran prioritas edukasi dalam Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia.