BTN Jadi Penyalur Terbesar FLPP Dengan 37.657 Unit Rumah Subsidi

BTN Jadi Penyalur Terbesar FLPP Dengan 37.657 Unit Rumah Subsidi
Ilustrasi KPR (sumber foto: NET)

JAKARTA - Penyaluran dana bantuan pembiayaan perumahan melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) terus menunjukkan tren positif. Per 11 Juni 2026, realisasi penyaluran FLPP telah mencapai 77.532 unit rumah atau 22,15 persen dari target pemerintah tahun ini sebanyak 350.000 unit. Capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama 36 bank penyalur dan 21 asosiasi pengembang, tersebar di 8.859 perumahan subsidi yang dibangun oleh 9.163 pengembang di 375 kabupaten/kota pada 35 provinsi.

Di sisi perbankan, Bank BTN menjadi penyalur terbesar dengan realisasi 37.657 unit rumah atau 48,56 persen dari total capaian. Disusul Bank Syariah Nasional 19.088 unit (24,61 persen), Bank BRI 6.275 unit (8,09 persen), Bank BNI 5.608 unit (7,23 persen), Bank Mandiri 2.755 unit (3,55 persen), dan sisanya 7,96 persen berasal dari mitra bank lainnya.

Dari kalangan asosiasi pengembang, REI mencatat realisasi tertinggi sebesar 32.026 unit rumah atau 41,3 persen. APERSI menyalurkan 23.048 unit (29,72 persen), HIMPERRA 10.426 unit (13,44 persen), ASPRUMNAS 3.532 unit (4,55 persen), PI 2.475 unit (3,19 persen), dan sisanya 7,8 persen dari asosiasi lain.

Berdasarkan data, minat generasi muda terhadap program rumah subsidi menempati posisi tertinggi. Kelompok usia 19–25 tahun menjadi penerima manfaat terbanyak dengan 28.060 unit rumah atau 36,19 persen dari capaian nasional. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat muda untuk memiliki rumah pertama melalui skema pembiayaan bersubsidi.

Dari sisi pekerjaan, kelompok swasta mendominasi dengan 52.592 unit atau 67,83 persen. Disusul wiraswasta 12.699 unit (16,38 persen), PNS 6.343 unit (8,18 persen), lainnya 4.723 unit (6,09 persen), dan TNI/Polri 1.175 unit (1,52 persen).

BP Tapera optimis penyaluran FLPP akan terus meningkat setiap bulan dengan koordinasi dan pemantauan terhadap kinerja bank penyalur maupun asosiasi pengembang. BP Tapera juga memperluas sosialisasi program rumah subsidi kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) agar semakin banyak yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan tersebut.

“Selain melakukan monitoring terhadap kinerja bank penyalur dan asosiasi pengembang, kami juga terus melakukan sosialisasi agar semakin banyak MBR yang dapat mengakses dan memanfaatkan program rumah subsidi. Tentunya hal ini kami lakukan melalui kolaborasi dengan para mitra kerja seperti Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Perbankan, hingga Asosiasi Pengembang Perumahan,” ujarnya.

Bidik Hunian Vertikal: Pemerintah juga mendorong keterjangkauan rumah vertikal bagi MBR pada tahun 2026. BP Tapera mencatat tersedia 2.908 unit rumah susun siap jual yang tersebar di Indonesia, baik dikelola swasta maupun Perum Perumnas.

“Kami juga melihat, berdasarkan data SiKumbang (Sistem Informasi Kumpulan Pengembang), terdapat juga data potensi rusun mencapai 9.217 unit. Kami akan dorong ini untuk dapat segera direalisasikan,” terang Heru.

BP Tapera terus berkoordinasi dengan Kementerian PKP, Kementerian Keuangan, dan BPKP untuk memastikan tata kelola sesuai aturan. Usulan tenor hingga 40 tahun dan pelunasan dipercepat tanpa denda sedang dirumuskan, dengan skema uang muka ringan, bunga tetap, dan angsuran terjangkau.

“Jika kami meninjau keterjangkauan berdasarkan upah minimum, maka apabila calon debitur mengajukan tenor hingga 40 tahun, angsuran per bulannya hanya sekitar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu untuk rumah susun,” pungkas Heru.

Dengan realisasi lebih dari 77 ribu unit hingga saat ini, program FLPP menunjukkan tren positif dalam mendukung kepemilikan rumah bagi MBR sekaligus mempercepat pencapaian target hunian layak dan terjangkau pemerintah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index