BI Rate Naik 5,75%, Cicilan KPR dan Kredit Kendaraan Diprediksi Melonjak

BI Rate Naik 5,75%, Cicilan KPR dan Kredit Kendaraan Diprediksi Melonjak
Ilustrasi BI Rate (sumber gambar: NET)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Kamis, 18 Juni 2026. Langkah ini menjadi kenaikan ketiga dalam sebulan, setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga di Mei sebesar 50 bps dan pada 9 Juni menjadi 5,50%. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility berada di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%.

Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global. Pertama, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hingga Rp18.000 per dolar AS, sebelum kembali ke Rp17.730 per dolar AS pada 17 Juni. Kedua, mengendalikan inflasi agar tetap dalam sasaran pemerintah 2,5% ± 1% hingga 2027.

Kebijakan ini ibarat pedang bermata dua. Stabilitas makroekonomi lebih terjaga, namun masyarakat akan merasakan dampak langsung berupa kenaikan bunga kredit. Pemilik KPR dengan bunga mengambang siap menghadapi cicilan lebih tinggi, sementara pengajuan kredit baru berpotensi lebih ketat dengan bunga awal lebih tinggi.

Sektor properti dan otomotif diperkirakan paling terdampak karena mayoritas pembeli mengandalkan cicilan. Produsen dan dealer harus mencari strategi seperti subsidi bunga atau promo DP ringan agar penjualan tidak lesu.

Pelaku UMKM juga menghadapi tantangan karena modal kerja dari bank menjadi lebih mahal. Masyarakat kemungkinan menahan belanja nonprioritas dan lebih memilih menabung, seiring naiknya bunga deposito.

Meski demikian, BI memperpanjang pelonggaran kebijakan kartu kredit hingga 31 Desember 2026. Batas minimum pembayaran tetap 5% dari total tagihan, dengan denda keterlambatan maksimal 1% atau Rp100.000.

Secara keseluruhan, masyarakat diimbau lebih bijak mengatur cash flow keluarga di paruh kedua 2026. Meminimalkan utang konsumtif dan memperkuat dana darurat di instrumen berpendapatan tetap seperti deposito atau SBN menjadi langkah mitigasi terbaik menghadapi era bunga tinggi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index